Skip to main content

Beragama dalam Keberagaman



 
Indonesia, negara yang penuh keragaman dalam bungkus kebhinekaan. Terbentuk dari berbagai ragam suku, ras, agama dan aliran. Oleh karena itu,  tidak bisa suatu suku, ras, agama ataupun aliran tertentu mengklaim negara Indonesia sebagai miliknya. Tak terkecuali dengan masyarakat pemeluk Islam, meskipun dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Jika salah satu agama atau suku mengklaim Indonesia, itu berarti telah menafikan yang lain. Kita harus ingat perjuangan berat para pahlawan terdahulu, agar  kita tetap menjadi bangsa yang maju dengan menghargai  perjuangan masa lalu.
        Kita perlu menyadari bahwa saat ini terdapat sekelompok orang yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Dalam hal, ini Islam versi kelompok tertentu. Islam yang penuh dengan benci dan caci. Padahal, Islam adalah agama yang penuh rahmat, agama yang penuh dengan kasih dan sayang. Oleh karena tidak semua masyarakat Indonesia menganut agama Islam, maka tidak lah cocok jika menjadikan negara ini sebagai negara Islam.
         Simbol negara Indonesia perlu dimaknai dengan baik, ”BHINEKA TUNGGAL IKA” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dari sini dapat dipahami bahwa, negara ini adalah negara yang di dalamnya terhimpun berbagai warna suku, agama dan ras yang meskipun berbeda-beda tetapi bersatu di bawah naungan negara yang bernama Indonesia, Bahasa Indonesia. Lalu, apakah pantas jika seseorang melakukan tindakan kekerasan atas dasar perbedaan yang muncul dalam agama, aliran ataupun suku? Mana wujud kebhinekaan?
          Kebhinekaan merupakan keniscayaan, karena yang satu hanya Tuhan. Kebhinekaan adalah rahmat Tuhan untuk semesta alam. Maka, menjadikan semuanya satu dan harus sama, artinya kita mengaku sebagai Tuhan. Penyamarataan adalah bentuk kesyirikan. Penculatan Hak Asasi adalah kedzaliman.

Lalu, Bagaimana Kita beragama di lingkungan beragam?

            Suatu hal yang cukup simpel jika kita memiliki "kejernihan akal dan pikiran" dalam beragama di  lingkungan yang beragam. Kita tak perlu mengikuti keyakinan orang lain, juga tak perlu memaksakan orang lain untuk mengikuti keyakinan kita. Kita harus sadar, bahwa kita hidup dalam lingkungan yang beragam, oleh karena itu, menghargai yang lain adalah keharusan. Salah satu usaha menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah dengan menjaga kebhinekaan dengan toleransi, persatuan dan rasa kemanusiaan. Bersikaplah sebagai manusia, bukan hewan berbungkus manusia (manusia brutal tak mempunyai rasa toleran).

         Beragama dalam keberagaman adalah keniscayaan untuk toleran. Menghargai pandangan adalah keniscayaan hidup dalam keragaman. Salam toleran, salam kerukunan!

(Ed: Sarasdewiq)

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Beda Untuk Damai (Film Pendek)

Film ini menceritakan tentang kehidupan anak - anak yang di bumbui dengan konflik di antara mereka sampai mereka berhasil memecahkan masalah mereka....