Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Nasional

Masjid Agung Jami' Singaraja: Saksi Bisu Indahnya Toleransi Beragama di Pulau Dewata

Warga Bali mungkin sudah familiar dengan Masjid Agung Jami' Singaraja yang terletak di Jalan Imam Bonjol 65, Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng. Masjid ini didirikan pada tahun 1846M pada masa pemerintahan Raja Buleleng A.A. Ngurah Ketut Jelantik Polong seorang penganut agama Hindu. Masjid ini berdiri megah dan menurut beberapa cerita mengatakan bahwa tersimpan Mushaf Al Qur'an yang ditulis tangan sendiri oleh salah satu keturunan Raja Buleleng yg memeluk agama islam yaitu  A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie. Isi dari Mushaf tidak ada perbedaan, hanya saja bagian kaligrafi berbentuk khas Hindu. Mesjid ini merupakan saksi bisu betapa indahnya toleransi beragaa di pulau Bali. Mengapa? Salah satu buktinya adalah bahwa pintu kayu berukir warna hijau yang ada digerbang Masjid dalam foto diatas merupakan pemberian keluarga Kerajaan di Buleleng ketika pertama kali masjid  tersebut dibangun. Pada zaman Raja Buleleng, semua pengaturan pelaksanaan diserahkan kepada sa...

Memperkuat Karakter Bangsa dengan Pancasila

Agen Toleransi- Eksistensi suatu bangsa sangat ditentukan oleh karakter yang dimilikinya. Hanya bangsa yang memiliki karakter kuat yang mampu menjadikan dirinya sebagai bangsa yang memiliki martabat dan disegani oleh bangsalain. Oleh karena itu, menjadi bangsa yang berkarakter merupakan keinginan sekaligus kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia untuk mempertahankan Indonesia. Keinginan menjadi bangsa yang berkarakter sesunggungnya sudah lama tertanam pada bangsa Indonesia. Para pendiri negara menuangkan keinginan itu dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-2 dengan pernyataan yang tegas, yakni;  "...mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur." Dari sini kita bisa memahami bahwa para pendiri negara menyadari bahwa hanya dengan menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmurlah bangsa Indonesia mampu menjadi bangsa yang bermartabat dan dihormati bangsa lain...

Sadar Toleransi

Keberadaan rasa kebersamaan yang tinggi dan kasih sayang antar sesama manusia, akan semakin membuat seseorang merasa bahwa dirinya merupakan makhluk Tuhan yang harus saling menjaga satu sama lain. “Dengan begitu masalah perselisihan, pertengkaran, dan permusuhan, tak akan ada lagi jika kita selalu menjaga kebersamaan dalam kehidupan sosial dan lain sebagainya.” http://www.radarpekalongan.com/90330/toleransi-kunci-dalam-membangun-daerah/, 

Soekarno cinta budaya Indonesia

Sejak kecil, Soekarno sangat menyukai cerita wayang. Dia hapal banyak cerita wayang sejak kecil. Saat masih bersekolah di Surabaya, Soekarno rela begadang jika ada pertunjukan wayang semalam suntuk. Dia pun senang menggambar wayang di batu tulisnya. Saat ditahan dalam penjara Banceuy pun kisah-kisah wayanglah yang memberi kekuatan pada Soekarno. Terinspirasi dari Gatot Kaca, Soekarno yakin kebenaran akan menang, walau harus kalah dulu berkali-kali. Dia yakin suatu saat penjajah Belanda akan kalah oleh perjuangan rakyat Indonesia. “Pertunjukan wayang di dalam sel itu tidak hanya menyenangkan dan menghiburku. Dia juga menenangkan perasaan dan memberi kekuatan pada diriku. Bayangan-bayangan hitam di kepalaku menguap bagai kabut dan aku bisa tidur nyenyak dengan penegasan atas keyakinanku. Bahwa yang baik akan menang atas yang jahat,” ujar Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007...

Karena Harmonisasi Butuh Perbedaan

Banyak orang beranggapan bahwa hanya dengan persamaan akan tercipta persatuan, sedangkan perbedaan hanya akan menciptakan perpecahan dan mengancaman persatuan. Kalau kita kembalikan pada fitrah kita, bukankah anggapan semacam ini salah? Karena menurut akal sehat, adanya kesamaan meniscayakan adanya perbedaan didalamnya. Dikatakan sama karena ada sisi beda, dan dikatakan berbeda karena ada sisi kesamaannya. Lalu bagaimana bisa mengklaim yang berbeda itu menciptakan perpecahan dan yang sama menciptakan persatuan? Seolah-olah "sama dan beda" itu dua hal yang kontradiksi, padahal dua hal tersebut saling meniscayakan satu sama lain. Sejak lahir kita selalu dihadapkan dengan berbagai perbedaan, tak usah jauh-jauh contohnya dapat diliat pada diri kita sendiri, bentuk dan fungsi anggota tubuh kita semuanya berbeda, namun apakah itu menciptakan perpecahan atau ketidakberaturan? Justru dengan berbeda itu tercipta keberaturan bukan dengan kesamaan karena keberbedaan adalah...

Jusuf Kalla: Pentingnya Toleransi dalam Membangun Rumah Ibadah

AgenTolernasi.com, Aceh -  Kondisi keamanan di lokasi kerusuhan di Desa Dangguran, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten  Aceh, Singkil  hari ini berangsur normal. Anggota TNI dan Polisi dengan senjata lengkap masih disiagakan di sejumlah tempat ibadah. Sementara itu, satu korban yang menderita luka tembak, seperti ditayangkan  Liputan 6 Petang SCTV , Rabu (14/10/2015), dirujuk ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh. Korban itu bernama Uyung, warga Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil. Saat kejadian, Uyung berada di antara kerumunan massa. Dalam peringatan Tahun Baru Islam di Masjid Istiqlal Jakarta,  Wakil Presiden Jusuf Kalla  menekankan pentingnya toleransi dalam membangun rumah ibadah. "Bagaimana ada toleransi yang baik termasuk membangun rumah ibadah. Bagaimana aturan-aturannya, maka itu aturan itu penting. Karena bila tidak aturannya, orang dengan gampang membuat aturan sendiri," kata JK. Bentrok antarkelompok warga di Kabupaten  ...

Jejak Toleransi di Museum Cheng-Ho

Masih banyak warga Jakarta belum tahu bahwa kampung budaya pacinan di kompleks Taman Kebudayaan Indonesia-Tinghoa, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), kini menyimpan begitu banyak kisah heroik pahlawan dalam perjuangan melawan penjajah kolonial Belanda. Sesuai dengan sebutannya sebagai taman budaya Tionghoa, maka pengunjung cepat menangkap kesan bahwa kawasan tersebut lebih menonjolkan kultur negeri Tirai Bambu. Apalagi di dalam kompleks tersebut berdiri kokoh patung Cheng Ho dan guru Khonghucu yang bagi etnis Tionghoa di Tanah Air tidak asing lagi. Suasana kultur etnis Tionghoa semakin terasa kental tatkala pengunjung menyaksikan taman 12 sio dan bangunan-bangunan indah dengan tulisan huruf kanji dan nama donaturnya. Kendati demikian, bangunan-bangunan yang merepresentasikan sebagai kawasan Tiongkok atau pacinan itu akan menyadarkan pengunjung bahwa mereka itu masih berada di Indonesia setelah menyaksikan patung burung Garuda dengan sayap lebar di tengah-tengah taman budaya te...

Peringati Hari Toleransi, "Cahaya Dari Timur" Akan Diputar 60 Layar

JAKARTA, AgenToleran.com --  Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada 16 November mendatang, Visinema dan Komunitas GUSDURian akan memutar film  Cahaya Dari Timur: Beta Maluku  di 60 layar di seluruh Indonesia sebagai bagian kampanye toleransi yang diadakan oleh GUSDURian.  "Jaringan GUSDURian selalu mengadakan kampanye toleransi. Ini tahun ketiga kami mengadakan kampanye ini dan temanya adalah 'Beda dan Setara'. Nah, kampanye kali ini juga salah satunya dilakukan lewat festival film-film toleransi dan film  Cahaya Dari Timur: Beta Maluku  jadi salah satu film yang akan ditayangkan di 60 layar di Indonesia," kata putri Presiden Republik Indonesia keempat Abdurrahman Wahid atau Gusdur, Inayah Wahid mewakili komunitas GUSDURian dalam jumpa pers di Kedai Filosofi Kopi, Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (13/11/2015).  "Penayangannya bisa benar-benar di  public space gitu . Entah di balai desa, lapangan, atau tempat apapu...

Soempah Pemoeda dan Intoleransi Beragama

“Satoe: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe, bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Doea: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Tiga: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia” (Teks Naskah “Soempah Pemoeda”, Djakarta 28 Oktober 1928). Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia senantiasa memperingatinya sebagai Hari Sumpah Pemuda. Hari ini, Rabu 28 Oktober 2015, sudah 87 tahun usianya. Indonesia bermakna “indo” yang artinya beraneka-ragam (terdiri atas suku, agama, ras, dan antar-golongan) dan “nesia” adalah negara/bangsa. Para pemuda Indonesia kala itu mendeklarasikan tekad persatuan dan kesatuan dalam “Satoe Tanah Air , Satoe Bangsa, dan Satoe Bahasa yaitu Indonesia”. Kendati NKRI dari Sabang hingga Merauke baru memproklamasikan kemerdekaannya 17 tahun kemudian, Sumpah Pemuda adalah merupakan bukti sejarah bangsa ini sesungguhnya sudah terlahir pada 28 Oktober 1928. Suda...