Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Hindu

Masjid Agung Jami' Singaraja: Saksi Bisu Indahnya Toleransi Beragama di Pulau Dewata

Warga Bali mungkin sudah familiar dengan Masjid Agung Jami' Singaraja yang terletak di Jalan Imam Bonjol 65, Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng. Masjid ini didirikan pada tahun 1846M pada masa pemerintahan Raja Buleleng A.A. Ngurah Ketut Jelantik Polong seorang penganut agama Hindu. Masjid ini berdiri megah dan menurut beberapa cerita mengatakan bahwa tersimpan Mushaf Al Qur'an yang ditulis tangan sendiri oleh salah satu keturunan Raja Buleleng yg memeluk agama islam yaitu  A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie. Isi dari Mushaf tidak ada perbedaan, hanya saja bagian kaligrafi berbentuk khas Hindu. Mesjid ini merupakan saksi bisu betapa indahnya toleransi beragaa di pulau Bali. Mengapa? Salah satu buktinya adalah bahwa pintu kayu berukir warna hijau yang ada digerbang Masjid dalam foto diatas merupakan pemberian keluarga Kerajaan di Buleleng ketika pertama kali masjid  tersebut dibangun. Pada zaman Raja Buleleng, semua pengaturan pelaksanaan diserahkan kepada sa...

Toleransi di Pulau Dewata

BALI,  – Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1938 yang jatuh pada Rabu, 9 Maret kemarin bertepatan dengan terjadinya fenomena langka Gerhana Matahari Total (GMT) yang tahun ini bisa disaksikan di beberapa kota di Indonesia Umat Hindu di Bali saat nyepi mengurung diri melaksanakan ibadah tapa brata yakni empat pantangan yang wajib dilaksanakan sekaligus melakukan introspeksi diri selama 24 jam sejak pukul 06.00 Wita sebelum matahari terbit hingga pukul 06.00 waktu setempat hingga hari ini (Kamis, 10 Maret 2016). Tapa Brata Penyepian tersebut meliputi Amati Karya (tidak bekerja dan aktivitas lainnya), Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Lelungan (tidak bepergian) dan Amati Lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu, tanpa hiburan/bersenang-senang). Meski Bali dalam kondisi senyap sehari semalam, toleransi kepada umat Islam tetap dijunjung tinggi. Warga pemeluk agama Islam diizinkan untuk melaksanakan Salat Gerhana di masjid dan musala terdekat. “Itu kesepakatan bersama dengan ...

Potret Toleransi Antar Umat Beragama di Desa Ngargoyoso Jateng

Sebuah potret toleransi antar-umat beragama ditunjukkan oleh sebuah desa di Kabupaten Karanganyar dan menjadi contoh rukunnya kehidupan antar umat beragama. Tiga tempat ibadah berbeda berdiri saling berdampingan. Komunikasi antar pemuka agama menjadi kunci toleransi di desa tersebut.     Ketiga tempat ibadah itu adalah masjid Al Mu'min, gereja Sidang Jemaat Allah Pancaran Berkat, dan pura Agra Bhadra Darma.     Bangunan-bangunan tersebut berdiri di lahan tanah kas Desa Ngargoyoso sejak belasan tahun silam. Meski saling berdampingan, tak pernah terjadi gesekan antarumat beragama. Mereka hidup saling menghargai dan menghormati satu sama lain.     Kunci keharmonisan antara umat Islam, Kristen, dan Hindu ini adalah komunikasi antarpemuka agama. Bahkan pada Hari Raya Idul Fitri, pihaknya meminta pihak majelis gereja untuk memajukan kegiatan peribadatan sebagai upaya toleransi terhadap umat muslim yang menjalankan salat Id. (Ed: Sarasdewiq) ...