Skip to main content

Keberagaman dan Toleransi

   
     Hidup berdampingan antarumat beragama bukanlah hal yang sulit diwujudkan. Pengalaman publik memperlihatkan perbedaan agama bukanlah kendala untuk menjalin hubungan sosial yang produktif. Di sisi lain, kebijakan pemerintah dalam beberapa hal dinilai tidak mendorong tumbuhnya kepercayaan sosial di antara kelompok yang berbeda identitas.
    Hubungan antar umat beragama sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya kepercayaan sosial (social trust ) yang terbangun di antara individu warga dan antar kelompok di masyarakat. Kepercayaan sosial antar-kelompok agama telah tumbuh berkembang di bumi Nusantara sejak berabad-abad lampau. Di Banten, misalnya, masih terdapat warisan toleransi agama yang dibangun pada abad ke-17. Di desa Pamarican, Kabupaten Serang, berdiri Wihara Avalokitesvara yang tereletak tak jauh dari Masjid Agung Banten. Wihara itu dibangun tahun 1652 oleh Sultan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati untuk menghormati rombongan istrinya, Putri Ong Tin Nio, dari China. Hingga kini pun, meski letaknya berdekatan di tersebut, tidak pernah terjadi keributan antar umat beragama. 
    Contoh di atas menunjukkan bahwa multikulturalisme di negeri ini bukanlah isapan jempol belaka. Pengertian multikulturalisme tak sebatas pada mengakui adanya kemajemukan budaya. Lebih dari itu, pengakuan kemajemukan harus diikuti oleh sikap menghormati dan menciptakan kehidupan bersama yang setara. Tanpa penghormatan dan kesetaraan, mustahil kelompok-kelompok yang berbeda akan bisa hidup berdampingan. Relasi antar umat beragama memerlukan kepercayaan sosial, karena perbedaan agama seringkali menimbulkan prasangka. Kepercayaan sosial mampu mengikis benih prasangka tersebut. Jajak pendapat yang dilakukan Kompas menunjukkan, di masyarakat telah terbangun suatu kepercayaan sosial antar warga yang berbeda agama. Rata-rata lebih dari tiga perempat bagian responden menyatakan kesediaan untuk menerima bahkan memberikan bantuan kepada warga yang berbeda keyakinan. Penerimaan tersebut tidak terbatas pada kehadiran sosok mereka yang berbeda agama, tetapi lebih dari itu juga terkait dengan penyelenggaraan acara-acara keagamaan. Sebanyak 79,5 % responden menyatakan tidak keberatan member izin pendirian rumah ibadah dari agama yang berbeda di tempat tinggalnya. Bahkan 91,2 % responden sepakat menerima jika ada tetangga mereka yang berbeda keyakinan mengadakan acara keagamaan di rumahnya. Pernyataan kesediaan tersebut dilandasi oleh pengalaman para responden sendiri. Sebanyak 73,7% responden mempunyai pengalaman terlibat membantu penyelenggaraan acara keagamaan teman atau kerabat yang berbeda keyakinan. 
    Di sisi lain, publik menilai kondisi masyarakat yang menempatkan kepentingan bangsa semakin buruk. Banyak kelompok saat ini berlomba-lomba memenangkan kekuasaan untuk diri sendiri dan kelompoknya. Hal itu tercermin dari banyaknya korupsi, pembiaran terhadap munculnya sektarianisme dan pengabaian kelompok-kelompok marjinal. Jika dikaitkan dengan Pancasila, bagi sebagian responden, situasi yang ada sekarang dinilai cenderung mengarah pada sikap-sikap yang tidak Pancasilais. Nilai-nilai seperti keadilan sosial, persatuan dan nasionalisme, kemanusiaan yang adil dan beradab, serta musyawarah untuk mufakat yang dulu digali oleh para pendiri bangsa sedikit demi sedikit mulai tergerus. Pancasila semakin terasa terpinggirkan. Untuk menciptakan kondisi toleran dalam masyarakat majemuk diperlukan kebijakan yang memberikan tempat pada pengakuan kemajemukan dan perlakuan yang setara pada kelompok – kelompok yang berbeda. ( chusmeru ) 

(Ed: Sarasdewiq)



Sumber: BI Purwantari, Merawat Benih Keberagaman, Menuai Toleransi, Kompas, 3 Juni 2013, halaman 5.

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Beda Untuk Damai (Film Pendek)

Film ini menceritakan tentang kehidupan anak - anak yang di bumbui dengan konflik di antara mereka sampai mereka berhasil memecahkan masalah mereka....