Skip to main content

Sebutan-Sebutan Haqiqi

"Sebutan-Sebutan Hakiki"

Disebut pahlawan bukan karena cara mati yang dipilihnya, tapi karena cara hidup yang dipilihnya.
Disebut berkorban bukan karena memberikan sesuatu yang diperlukan orang lain, tapi karena memberikan sesuatu yang ia sendiri memerlukannya.

Disebut berani bukan karena menang menghadapi lawan, tapi karena tenang menghadapi lawan.
Disebut percaya diri bukan karena atribut atau asesoris yang menunjang dirinya tapi karena dirinya tak perlu ditunjang atribut dan asesoris.

Disebut pandai bukan karena banyaknya ilmu yang dimilikinya, tapi karena banyaknya orang yang dipahamkannya.

Disebut baik bukan karena orang lain menilainya baik tapi karena ia menilai orang lain baik.
Disebut toleran bukan hanya karena menerima pendapat orang lain, tapi karena mengganti pendapat sendiri bila pendapat orang lain lebih logis.

Disebut kekasih idaman bukan karena selalu membuatmu senang tapi karena membuatmu matang dan tenang.

Disebut cantik bukan karena penampilannya membuat pria berani memujinya, tapi karena sikapnya membuat pria hormat hingga segan memujinya.

Disebut bijak bukan karena quotenya dishare oleh banyak orang tapi karena pandangannya mendasar, logis, lugas sistematis dan memerdekakan.

Disebut sederhana bukan karena tidak memiliki harta tapi tidak dimiliki harta.

Disebut sahabat bukan karena selalu menyertaimu dan bergantung saat kamu bahagia, tapi karena membangkitkanmu saat kamu sengsara.

Disebut jujur bukan karena mengungkap apa yang ada dalam benak kepada orang lain, tapi karena mengungkap apa yang perlu diketahui orang lain.

Disebut "Habib" bukan karena memajang gelar itu tapi karena menyebarkan hubb (cinta kasih) sesama manusia, sesama warga dan sesama Muslim.

Disebut Muslim (serumpun dengan keselamatan/kedamaian) bukan karena suka bacaan Quran dengan langgam Saudi tapi karena lidah & tangannya menyebarkan kedamaian.

Disebut Mukmin (serumpun dengan aman) bukan karena mengkafirkan kelompok lain tapi karena sikap dan pernyataannya tidak merampas rasa aman orang lain.

(Muhsin Labib)

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...