Skip to main content

Mari Semai Kembali Benih-Benih Toleransi!


Indonesia adalah negara yang penuh dengan keragaman. Oleh karena itu, masyarakatnya pun disebut sebagai masyarakat multikultural, yakni masyarakat yang memiliki banyak kebudayaan. Kita bisa melihat dari sabang sampai merauke, mulai dari banyaknya baju tradisional, alat-alat musik, lagu-lagu daerah dan bahasa yang berbeda di setiap daerah. Meski demikian, Indonesia tetap menjaga persatuan. Perbedaan itu menjadi satu sehingga yang muncul adalah kita sebagai bangsa Indonesia dengan bahasa yang satu-bahasa Indonesia- serta ideologi yang satu -ideologi Pancasila-.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia dibangun atas dasar toleransi. Baik antar suku, ras, agama atau kepercayaan. Bayangkan saja jika antar etnis atau suku saling menguat, mengklaim negara Indonesia sebagai miliknya, maka apa yang akan terjadi? Tentu bukan persatuan, tapi perpecahan. Ketika terjadi perpecahan, apakah bisa melawan penjajahan secara independen seperti satu suku atau satu etnis saja? Tentu saja tidak, bukan? Melawan penjajahan harus secara kolektif, antar etnis atau suku harus membentuk satu kesatuan untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu mensyukuri perjuangan para pahlawan bangsa yang telah berhimpun untuk melawan penjajah di masa lalu.

Dengan cara apa kita mensyukuri Perjuangan para Pahlawan?
Salah satu ungkapan rasa syukur kepada jasa para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah dengan menjaganya. Mejaga berarti tidak merusak, tidak membuat kerusuhan, kegaduhan apalagi menciptakan perpecahan dan semacamnya. Oleh karena Indonesia dibangun atas dasar toleransi, menjaganya pun harus dengan sikap toleran.

Benih-benih toleransi sebenarnya jika kita telusuri, sudah ada dalam diri setiap manusia. Terbukti bahwa kita terlahir dari hasil toleransi antara kedua orang tua. Mereka saling menghargai pendapat, berbagi pandangan, menghormati di antara keduanya hingga lahirlah seorang bayi. Akan tetapi, semakin majunya zaman, kita melupakan dasar-dasar toleransi dari kedua orang tua maupun dasar-dasar toleransi atas terbentuknya negara Indonesia ini. Ini merupakan salah satu kemunduran bangsa Indonesia. kita perlu menyemai kembali benih-benih toleransi yang dahulu sudah tertanam dalam jiwa setiap orang, terlebih pada bangsa Indonesia.

Menumbuhkembangkan kembali benih toleransi ini mungkin dimulai dari diri sendiri. Cobalah menganggap penting orang-orang diluar diri kita sepenting kita menganggap diri kita sendiri. Hal itu akan membuat orang merasa dihargai. Ketika orang berbeda pemahaman dengan kita, kita tak perlu mengusik pemahaman orang lain. Mempertahankan pemahaman kita itu sangat penting, tapi membela kebebasan orang untuk memahami sesutu berbeda dengan kita itu jauh lebih penting. Karena, itu yang akan membuat kita menjadi bersatu. Berbagai perbedaan dalam satu Indonesia adalah sebuah keniscayaan. sehungga, adanya perbedaan bukanlah menjadi sebuah masalah. Yang menjadi problem saat ini adalah timbulnya suatu perpecahan yang mana sebelumnya tidak ada perpecahan itu. Maka dari itu, damailah Indonesiaku, merdeka bangsaku.

(Foto: www.akademiflora.com)

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Beda Untuk Damai (Film Pendek)

Film ini menceritakan tentang kehidupan anak - anak yang di bumbui dengan konflik di antara mereka sampai mereka berhasil memecahkan masalah mereka....