Skip to main content

Bangsa adalah Asas Perwujudan Nilai Pancasila

Bangsa adalah Asas Perwujudan Nilai Pancasila

Sekelompok masyarakat yang memiliki hak dan kewajiban mewujudkan seluruh tujuan yang layak, untuk setiap umat yang membentuk sebuah negara, biasa dikenal dengan 'Bangsa'.

Pada mulanya negara dibentuk untuk menentukan wilayah perbatasan--yang menjelaskan--sampai mana hak dan kewajiban masyarakat. Sekelompok masyarakat pada hakikatnya satu bentuk operasional yang dibangun untuk bersama-sama sampai tujuan.

Tujuan yang pada akhirnya mengantarkan kita kepada nilai-nilai keluhuran, nilai-nilai persaudaraan, kerukunan, perdamaian, persaudaraan, optimisme antar masyarakat, pelayanan antar masyarakat. Tujuan yang jauh dari kekosongan yang tak terarah, saling menyalahkan, tercerai berai, saling menghinakan, dan bertikai. Sehingga, masyarakat bisa dikatakan, sebagai perwujudan sebab yang membentuk sebuah 'bangsa paripurna' sampai pada akibatnya berupa terbentuknya wilayah yang disebut negara.

Realistisnya; kekayaan alam bukan negara pemiliknya tetapi bangsa. Oleh karenanya bangsa bertanggung jawab terhadap kelangsungan seluruh kehidupan manusia. Bangsa pula yang memimpin, juga bangsa-lah yang mewujudkan seluruh tujuan. Bangsa merupakan sekelompok  masyarakat yang telah mencapai daya aktif, kesadaran pembaharuan kepada setiap insan untuk mencapai tujuan. 

Hal ini menjelaskan kecenderungan yang harus dimiliki bangsa adalah prinsip atau nilai yang harus dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. Ternyata prinsip itu telah tertuang dalam bahasa Pancasila yang menjunjung kemanusiaan. Bahasa-bahasa itu terhimpun yang membentuk kelayakan tindakan, antara lain: 
1. Kejujuran setiap manusia adalah utusan.
2. Persaudaraaan.
3. Bertanggung jawab. 
4. Menghargai kemajemukkan atau pruralis.
5. Permusyawaratan yang mencegah kita dari keegoan.
6. Mendahulukan perdamaian yang membentengi kita dari kebencian.
7. Kontrol yang menghantarkan kita pada kesadaran nilai-nilai kemanusiaan.

Maka itu semua memusatkan kita pada integritas setiap manusia untuk mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan. (Agil/Lubis)

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Beda Untuk Damai (Film Pendek)

Film ini menceritakan tentang kehidupan anak - anak yang di bumbui dengan konflik di antara mereka sampai mereka berhasil memecahkan masalah mereka....