Skip to main content

Rindu Kedamaian dan Toleransi


Agen Toleransi- Bukan tanpa alasan para pendiri bangsa berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bukan pula tanpa alasan para pendiri bangsa yang tergabung dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ) membentuk panitia sembilan untuk merancang UUD 1945 Republik Indonesia. Satu diantara tujuan yang lain adalah untuk menciptakan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Hal itu tertuang dalam pembukaan UUD 1945.

"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” (petikan dari pembukaan UUD 1945).

Kita perlu meresapi apa sebenarnya yang diinginkan para pendiri bangsa dan yang terkandung di dalam dasar konstitusi Negara. Mereka para pendiri bangsa menyusun pancasila sebagai dasar negara, dan UUD 1945 sebagai dasar konstitusi negara dengan isu-isu yang universal. Sehingga, dasar negara tidak hanya menyentuh mereka yang mayoritas, tapi minoritas juga. Ini karena, para pendiri bangsa berasal dari latar belakang, suku, agama dan ras yang beragam.

Setelah kemerdekaan beberapa puluh tahun yang lalu, Indonesia penuh dengan kedamaian, ketentraman dan keamanan. Ini karena dasar-dasar konstitusi kita diamalkan. Negara berperan aktif dalam melindungi seluruh (bukan sebagian) warga Indonesia. Akan tetapi, belakangan ini, banyak sekali para pengacau membuat negeri ini menjadi carut-marut. Dimana peran negara sebagai pelindung?

Kita bisa melihat konflik Poso, Sampit, Sampang, kelompok minoritas Ahmadiah, Syi’ah dan lain sebagainya tengh termarginalkan. Mereka tidak dilindungi, seperti kita lihat dibagian belahan nusantara ini khususnya di Sampang mereka tidak bisa pulang ke kampungnya sendiri dan tidak diberi kehidupan yang layak. Dimana peran negara untuk perdamaian abadi dan keadilan sosial?

Lain dari pada itu, kejenuhan merambah pada segenap rakyat Indonesia. Jenuh hatinya, otaknya serta pikirannya.  Sehingga timbullah masalah baru dengan beredarnya isu panas LGBT, merambahnya intoleran serta tawuran di kalangan remaja. Mereka semua butuh uluran dari pemerintah, mereka butuh peran negara sebagai pelindung bangsanya. Mereka butuh peran negara dalam menciptakan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Mereka rindu akan perdamaian.

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...