Skip to main content

Tangkal Radikalisme, Ini Harapan KWI kepada Menag

Agen Toleransi —Jakarta (18/3) Sejumlah Pengurus Pusat Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menemui Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Kedatangan tersebut bertujuan untuk menyampaikan keprihatinan mereka atas marak dan berkembangnya radikalisme di Tanah Air.



“Beberapa kejadian seperti gagalnya pemutaran film dokumenter tentang Borobudur, di beberapa tempat karena didemo, rusuhnya pendirian rumah ibadah, bahkan kurangpahamnya beberapa kepala daerah tentang undang-undang pendirian rumah ibadah dan lain sebagainya, menambah keprihatinan kami,” kata Sekretaris Eksekutif KWI Rm Yr Edy Purwanto.

Ikut dalam rombongan KWI tersebut, RM G Suprapto (Komisi Kerawam) dan RM Agus U (Komisi HAK). Sementara Menag didampingi oleh Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi dan Direktur Urusan Agama Katolik SP Simbolon. Menurut Edy, jika pada 1970-an dan 1980-an masyarakat  bisa hidup rukun, saling mengerti dan memahami, bahkan ada juga yang merayakan hari besar agama secara bersama, sekarang hal seperti itu jarang ditemui. Bahkan radikalisme kini sudah masuk ke dalam dunia mahasiswa.

“Ada penelitian dari LIPI, 34 % yang diwawancarai, menyetujui tindakan-tindakan anarkis, 14 % sepakat dengan bom di Thamrin beberapa waktu lalu,” kata Edy.

“Harapan kami, Kemenag melakukan FGD, utamanya bagi masyarakat yang peduli dan punya data-data tentang kerukunan, jadi bisa dilihat dari berbagai perspektif. Seakan, kini, ada semacam institusionalisasi radikalisme,” imbuh Edy khawatir.

Menag Lukman juga melihat adanya  kecenderungan naiknya radikalisme, namun belum pada tataran institusionalisasi radikalisme. Menurutnya, saat ini banyak faham dari luar Indonesia yang sebenarnya tidak sesuai dengan jati diri bangsa, dan ini dengan mudah masuk, melalui dunia digital. 

Kementerian Agama, kata Menag serius dalam ikut menangani radikalisme. Kemenag telah melakukan sejumlah program, antara lain  melakukan pilot project di bidang pendidikan untuk guru-guru agama lintas agama agar  mampu berperan aktif dalam meredam radikalisme. Kemenag juga telah berkoordinasi dengan Kemendagri dan Kapolri dalam penanganan radikalisasi. 

“Harapan kami, para kepala daearah, sebelum dilantik, dibekali beberapa hal yang berhubungan dengan agama dan keagamaan. Karena sering kali, radikalisme disusupi kepentingan politik. Ini harus kita minimalisir,” kata Menag.

“Sedang dengan Kapolri, kami berharap, aparat keamanan yang mewakili negara, bisa bergerak tegas untuk menunjukkan kahadiran negara dalam melindungi dan melayani masyarakat,” imbuhnya. 

Sumber: http://www.kemenag.go.id/

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...