Banyak
dari kita lebih mudah memikirkan hal-hal yang membuat kita
terpisah-pisah
dibandingkan memikirkan hal-hal yang menyatukan kita. Padahal ada lebih
banyak kesamaan yang kita miliki daripada perbedaan yang menyulut
perpecahan diantara kita. Pesan toleransi
sebenarnya ada dimana-mana, bahkan dari dalam diri kita sendiri. Mari
belajar
toleransi dari keajaiban DNA...
Sebuah situs pencari jasa travel di Denmark,
Momondo mengadakan sebuah program yang sangat menarik terkait dengan informasi
yang ada dalam DNA Anda. Mereka mengumpulkan 67 orang untuk mengikuti sebuah
tes DNA. Berasal dari berbagai etnis, negara dan latar belakang, setiap
partisipan “diajak” untuk melakukan sebuah perjalanan DNA. Dalam sesi pertama,
masing-masing dari mereka diwawancarai secara terpisah dengan beberapa
pertanyaan yang sama seperti, siapakah mereka, dari keturunan manakah mereka
dan tempat, bangsa atau negara manakah yang paling tidak mereka sukai.
DNA adalah suatu asam nukleat yang menyimpan segala informasi biologis yang
unik dari setiap makhluk hidup dan beberapa virus. Struktur
kimianya berupa makromolekul kompleks yang terdiri atas 3 macam molekul, yaitu
gula pentosa (deoksiribosa), asam fosfat, dan basa nitrogen. Peran utama dari
molekul DNA adalah penyimpanan jangka panjang informasi. DNA sering
dibandingkan dengan satu set cetak biru atau resep, atau kode, karena berisi
instruksi yang dibutuhkan untuk membangun komponen lain dari sel, seperti protein
dan molekul RNA.[1] Setiap orang memiliki
kode DNA yang unik. Tidak ada dua orang yang memiliki DNA yang sama persis. Namun
tahukah Anda bahwa dari informasi DNA kita mampu merubah cara pandang kita
tentang dunia?
Asal-usul DNA Kita
Sebelumnya, apakah Anda mengetahui bagaimana Anda
dapat memiliki kode DNA yang unik itu? “DNA yang kita miliki 50% berasal dari
ayah dan 50% dari ibu,” jelas seorang ahli DNA bernama Brad Argent . “Orang tua
kita juga mendapatkan masing-masing 50% dari orang tua mereka dan begitu
seterusnya. Hal ini menunjukkan bahwa dari DNA kita dapat mengetahui dari mana
nenek moyang kita berasal.”[2]
Setiap orang menjawab sesuai dengan apa yang
mereka rasakan. Semua bangga dengan etnis dan latar belakang masing-masing. Dan
mereka juga menyebutkan satu negara yang paling tidak mereka sukai diantara
negara-negara yang ada di dunia. Setelah melakukan wawancara tadi, tim meminta mereka untuk memberi sampel DNA
melalui air ludah mereka yang dimasukkan ke dalam sebuah tabung kecil. Mereka
yakin bahwa hasil DNA akan menunjukkan bahwa mereka memang keturunan asli dari
etnis masing-masing.
Dua minggu kemudian, hasil DNA siap untuk dibacakan.
Mereka lalu dikumpulkan lagi dalam satu ruangan untuk membacakan hasil DNA
tersebut kepada partisipan yang lain. Tentunya, sebelumnya para partisipan
mengetahui apa yang dikatakan oleh setiap orang dalam program ini kepada tim
tersebut.
Wajah para partisipan begitu tegang ketika tim
menyodorkan selembar kertas hasil tes DNA mereka. Mereka begitu terkejut ketika
mengetahui hasil tes DNA masing-masing. Apa yang mereka temukan lebih banyak
kesetaraan dengan negara dan etnis lain dari apa yang mereka kira sebelumnya. Mereka
kemudian diminta untuk membacakannya di hadapan partisipan yang lain. Semua
tertawa ketika mengetahui bahwa seseorang yang mengatakan dirinya 100%
keturunan Inggris dan anti orang Jerman hanya memiliki 30% gen Inggris dan memiliki
5% gen dari Jerman. Begitu pula dengan partisipan yang lain. Yang lebih
menarik, ada dua orang dari partisipan yang ternyata berhubungan sepupu.
Padahal keduanya tak saling mengenal sebelumnya.
Salah satu partisipan mengatakan, “Tidak akan ada
ekstrimis di dunia ini jika mereka tahu bagaimana garis keturunan mereka.” Yang
lain berkata. “Karena siapa orang bodoh yang mengira bahwa ia adalah keturunan
yang 100% asli dari bangsa tertentu (sehingga harus merasa unggul dari etnis
lain?).” Satu hal yang patut kita ingat dari video ini adalah kata-kata di
akhir video yang mengatakan, “An Open World Begins with an Open Mind” (Dunia
yang terbuka berawal dari pemikiran yang terbuka). Jadi tak ada alasan bagi
kita untuk merendahkan bangsa lain, siapa tahu nenek moyang kita sebenarnya
berasal dari bangsa tersebut?
Salam toleransi ;)
