Skip to main content

Acin Muhdor dan Ustad Abu Janda

Saya dan Ustad Abu Janda al-Boliwudi mungkin juga teman-teman lainnya berulang kali dizalimi oleh mereka-mereka yang tak mampu membalas argumen kami. 

Cara mereka sederhana, dengan upah sekedarnya, dan tak perlu kecerdasan. Hanya perlu keimanan dan satu platform device untuk mengendalikan cyber crime dengan menggerakan ratusan bahkan ribuan robot-robot digital pemangsa akun toleran. Tujuannya agar kami tidak bisa berkutik. Agar kami berhenti menulis!

Tapi apa boleh dikata? Menyebar gagasan toleransi sudah menjadi tanggung jawab kami.
Bila para musuh-musuh NKRI tak pernah lelah untuk melakukan aksi nyata maupun cyber yang menciptakan kehancuran dengan membius ide intoleransi. Kami juga tak akan pernah lelah menyebarkan ide toleransi.

Untuk semua saudaraku sebangsa setanah air, baik yang Muslim maupun yang Non Muslim. Sadari satu hal bahwa persatuan kita adalah musuh terbesar kaum intoleran. Itu yang menjadikan Indonesia bertahan sampai saat ini.

Karena kekuatan yang lahir dari persatuan kita menghambat tujuan keji mereka, mereka menghalalkan segala cara untuk memecah belah kita. Jangan terpancing ya.
Jangan lupa juga ingatkan semua orang terdekat yang sekiranya masih bisa diajak berdiskusi dengan akal sehat, untuk tetap menjunjung tinggi nilai toleransi.

- SALAM TOLERANSI -
 
 Diambil dari FP Acin Muhdor
https://web.facebook.com/acinmuhdor/?fref=ts 

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...