Skip to main content

Adab yang Terniscaya

Indonesia merupakan negara yang berasaskan pancasila. Pancasila ini sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia, sudah seharusnya memahami dasar negaranya untuk diamalkan dalam setiap aspek kehidupan dalam rangka bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Manusia dalam fitrohnya, ia mencintai kepada kebaikan. Dan hati manusia pada dasarnya memiliki kelembutan. Ketika ia melihat hal-hal keji seperti pembunuhan, pelecahan ataupun hal-hal semacamnya ia tidak akan tega melihatnya bahkan ketika tak terbiasa melihatnya bisa saja pingsan.

Akan tetapi, ketika manusia sudah terbiasa melihat hal-hal semacam itu, maka tidak akan memberikan efek apapun pada dirinya. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan atau pembinaan dalam menumbuhkan kembali fitroh kebaikan tersebut, agar dapat meraih derajat kemanusiaan atau bisa disebut sebagai manusia.

Dalam sila ke dua pancasila yang berbunyi 'kemanusiaan yang adil dan beradab', dapat dipahami bahwa menjunjung nilai kemanusiaan, bersikap adil dan mengedepankan adab merupakan sebuah keniscayaan dalam lingkungan sosial Indonesia untuk menegakkan keadilan. Berkemanusiaan artinya ia bersifat ke-manusia-an.

Sila sebelumnya memberikan pemahaman kepada kita untuk mengEsakan Tuhan, dan mengakui bahwa yang satu hanya lah Tuhan. Dan pada sila kedua ini yang harus kita lakukan adalah bersosial ,karena berkaitan dengan manusia. Hal ini berkaca pada asal-usul manusia yaitu terdiri dari dua unsur, roh kudus (Roh Tuhan) dan lempung busuk(tanah). Sehingga, selain ia harus melakukan hubungan ke atas(vertikal) dalam hal ini menyembah Allah, ia pun harus berinteraksi secara horizontal (melakukan interaksi dengan sesama manusia).

Jadi, ketika kita membiarkan tindakan kekejaman atau bahkan ikut serta dalam tindakan kejahatan seperti mencatut hak asasi manusia baik berkaitan dengan ibadah, atau hanya karena berbeda keyakinan ataupun berbeda agama itu sama saja dengan menanggalkan kemanusiaan kita. Lalu kita disebut apa?

Tentu saja yang lebih rendah dari manusia. Seperti hewan mungkin atau tumbuhan dsb. Sudah tentu hal itu tidak sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yaitu membentuk manusia yang adil dan beradab. Apalagi dengan  apa yang diharapkan oleh Tuhan. Karena Tuhan itu Maha Baik sudah tentu yang Ia harapkam adalah Kebaikan.

Oleh: Agen Banin

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Beda Untuk Damai (Film Pendek)

Film ini menceritakan tentang kehidupan anak - anak yang di bumbui dengan konflik di antara mereka sampai mereka berhasil memecahkan masalah mereka....