Hampir seluruh masyarakat di seluruh penjuru dunia menyerukan suara keadilan dan kebebasan pada masyarakat yang tertindas tentunya.
Tetapi apakah mereka tahu apa itu kebebasan?
Mungkin sebagian orang berfikir bahwa bebas itu yah suka-suka, terserah sendiri atau dalam bahasa jawa sa’karepe dewe. Benarkah itu suatu kebebasan?
Jika itu yang dimaksud bebas, lantas bagaimana untuk manusia yang lain yang berada di sekitar ranah ke suka-sukaan kita? Tidak berpengaruhkah?.
Tentu sangat berpengaruh, justru hal itu bisa jadi orang-orang disekitar akan menjadi tidak bebas.
Perlu diketahui bahwa kebebasan itu tidak berdiri sendiri. Bukan sesuatu yang satu,namun berhubungan dengan yang lainnya.
Dr Ali Syariati berpendapat, “kebebasan individu merupakan kebebasan yang parsial”. Bisa diartikan, bahwa kebebasan yang sebenarnya itu bukanlah kebebasan semau kita, namun kebebasan yang sebenarnya harus memperhatikan prinsip keadilan, atau tidak berbuat dzolim.
Apa itu keadilan? Adalah sebuah sistem nilai, yaitu meletakan sesuatu sesuai dengan hak dan porsinya. Maksudnya bukan meletakan seperti hal-nya kita menaruh sebuah cangkir di atas sebuah meja, itu suatu hal yang sangat mudah.
Tetapi, meletakan disini adalah bagaimana kita memperlakukan diri kita dan diri-diri di luar kita, dan bagaimana kita memperlakukan benda-benda dan ciptaann-Nya yang ada di sekeliling kita sebagaimana mestinya, bukan sebagaimana adanya.
Seperti contoh: ketika kita dalam sebuah perjalanan, lalu kita menginginkan untuk berhenti dan singgah di warung bakso, namun di depan warung bakso itu tidak ada tempat untuk parkir mobil, lalu dengan seenaknya berhenti di depan warung bakso dan menyebabkan jalanan macet, akhirnya kita merugikan orang banyak bukan? Memang untuk parkir mobil, bebas kita mau memberhentikan mobil kita dimana saja, tapi bukankah tidak adil ketika kita berhenti, lalu ada banyak orang yang terjebak dalam macet sedang orang-orang tersebut bisa jadi memiliki urusan yang penting yang akhirnya bisa gagal.
Tentu jika seperti ini, kita merasa bebas, tapi orang lain terkekang dalam kebebasan kita. Adilkah?. Maka dari itu tidak ada satu kebebasanpun yang tidak terlepas dari keailan.
Sebenernya simple saja, kalau masih ada ketidak adilan, maka itu bukan bebas. Seruan kebebasan tapi mengoyak hak-hak yang lain maka itu bukan kebebasan, tapi pengekangan.
Hal lain seperti kasus salim kancil di rawa-rawa. Beberapa oknum tambang memiliki kebebasan membuka lahannya untuk pertambangan, akan tetapi masalahnya, bagaimana dengan warga sekitar rawa-rawa itu? mereka bukan hanya merasa risih akan tetapi hak-haknya diambil.
Olehkarena itu, salim kancil sebagai warga sekitar ingin menuntut haknya. Dia tak takut akan resiko yang bakal menimpanya. Yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya agar dia bisa memperoleh haknya. Maka dia bebas menuntu, salim kancil disini memiliki kebebasan untuk menuntut para oknum yang perampas atau pengekang kebebasan warga di rawa-rawa tersebut.
Oleh: Banin Mohsen