
Matikan egomu, Maka kau lihat kebenaran.
Seringkali kita melihat berbagai macam bentuk kejahatan. Kita juga sering menjumpai berbagai macam tindakan dari kaum yang tak menerima sesuatu yang berbeda diluar kelompoknya (baca:intoleran). Merekalah orang-orang yang tidak siap untuk bersikap dewasa.
Sebagaimana anak kecil selalu memikirkan dirinya sendiri, keinginannya ingin selalu dituruti. Ini karena sifat ego dalam diri anak kecil masih tinggi. Semakin dewasa seharusnya makin berkurang tingkat ego-nya.
Seorang wanita dan lelaki yang berkomitmen untuk hidup bersama pasti terlebih dahulu mereka harus saling memahami dan tidak mengedepankan ego masing-masing.
Bayangkan jika sepasang suami-istri saling mengedepankan ego, berapa banyak orang bercerai dalam setiapmenitnya?. Seorang wanita yang berstatus ibu juga akan rela melakukan apapun demi anaknya. Dia sudah mematikan ego dalam dirinya, hanya untuk anaknya.
Pemberian label sesat, kafir dari orang-orang yang belum siap untuk menerima perbedaan adalah bentuk dari keterhijaban ia dalam memandang sebuah kebenaran. Betapa tidak, BerTauhid (mengesakan Allah) itu berarti menganggap bahwa yang satu hanyalah Allah dan selainnya banyak?. Tetapi, mengapa mereka tidak memandang demikian? Kembali lagi, ego masih bersemayam dalam hati mereka (baca:intoleran). Matikan ego, kau akan lihat kebenaran!
Hai lilin dari Tiraz,
Padamkan dirimu di waktu fajar.
Ketahuilah, mentari dunia
Akan terus tersembunyi,
Sebelum gemintang bersembunyi.-Rumi-
(diambil dari Rumi: Serpihan-serpihan puisi Penenrang Jiwa, penerjemah Haidar Bagir)
Tampaknya, kata-kata Rumi sangat cocok untuk kita resapi dan renungi. Bahwa kebenaran itu baru akan tampak jika kita mematikan ego kita. Meskipun di depan kita ada lilin, tapi hati kita tidak menerima, maka kita tidak akan bisa menikmati terangnya lilin dalam kegelapan!
Salam Toleransi