Skip to main content

- LILIN KECIL DI MIHRABKU -

agen toleransi

Matikan egomu, Maka kau lihat kebenaran.

Seringkali kita melihat berbagai macam bentuk kejahatan. Kita juga sering menjumpai berbagai macam tindakan dari kaum yang tak menerima sesuatu yang berbeda diluar kelompoknya (baca:intoleran). Merekalah orang-orang yang tidak siap untuk bersikap dewasa.

Sebagaimana  anak kecil selalu memikirkan dirinya sendiri, keinginannya ingin selalu dituruti. Ini karena sifat ego dalam diri anak kecil masih tinggi. Semakin dewasa seharusnya makin berkurang tingkat ego-nya. 


Seorang wanita dan lelaki yang berkomitmen untuk hidup bersama pasti terlebih dahulu mereka harus saling memahami dan tidak mengedepankan ego masing-masing. 


Bayangkan jika sepasang suami-istri saling mengedepankan ego, berapa banyak orang bercerai dalam setiapmenitnya?. Seorang wanita yang berstatus ibu juga akan rela melakukan apapun demi anaknya. Dia sudah mematikan ego dalam dirinya, hanya untuk anaknya.


Pemberian label sesat, kafir dari orang-orang yang belum siap untuk menerima perbedaan adalah bentuk dari keterhijaban ia dalam memandang sebuah kebenaran. Betapa tidak, BerTauhid (mengesakan Allah) itu berarti menganggap bahwa yang satu hanyalah Allah dan selainnya banyak?. Tetapi, mengapa mereka tidak memandang demikian? Kembali lagi, ego masih bersemayam dalam hati mereka (baca:intoleran). Matikan ego, kau akan lihat kebenaran!


Hai lilin dari Tiraz,

Padamkan dirimu di waktu fajar.

Ketahuilah, mentari dunia

Akan terus tersembunyi,

Sebelum gemintang bersembunyi.-Rumi-

(diambil dari Rumi: Serpihan-serpihan puisi Penenrang Jiwa, penerjemah Haidar Bagir)

Tampaknya, kata-kata Rumi sangat cocok untuk kita resapi dan renungi. Bahwa kebenaran itu baru akan tampak jika kita mematikan ego kita. Meskipun di depan kita ada lilin, tapi hati kita tidak menerima, maka kita tidak akan bisa menikmati terangnya lilin dalam kegelapan!


Salam Toleransi

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Beda Untuk Damai (Film Pendek)

Film ini menceritakan tentang kehidupan anak - anak yang di bumbui dengan konflik di antara mereka sampai mereka berhasil memecahkan masalah mereka....