Skip to main content

Dibalik Sisi Gelap

Di kehidupan banyak kita melihat Macam-macam sifat manusia, dari yang baik sampe yang jahat dan kekhususan pada tiap individu.

tetapi akan berbeda dengan realitas bila memasuki alam kreasinya, seperti tulisannya dan perilaku nya di luar, bisa berbeda, misalnya tulisannya pada buku atau di kehidupan medsos yang maya,pada komunitas sosial, di lingkungan baru, dimana kepura-puraan adalah salah satu sisi lain dari dirinya bisa di bangun demi tujuan-tujuan tertentu, bisa untuk kebaikan maupun kejahatan.

Seseorang bisa tidak mencerminkan pribadinya, karna dengan menjadi selain dirinya dianggap lebih sempurna dan lebih disukai orang-orang

pemalu mungkin bisa jadi pemberani, orang yang over Percaya diri bisa pura-pura menjadi pendiam, pemarah bisa jadi pemaaf, baper bisa jadi cuek, galau bisa jadi penggombal, perenung bisa jadi pelawak.

Image kebalikan dirinya ini dibangun memang bukan seperti realitas asli dirinya, tapi ini asli realitas kreasinya yg artinya dia bukan dia, tapi dia adalah dia.

Seorang penjahat, bisa jadi dia ingin terlihat jahat sehingga saat berbuat baik dia tidak ria

Seorang yang bijak, bisa jadi dia ingin terlihat bijaksana sehingga saat berbuat jahat dia tidak merasa hina karna meninggalkan kesan-kesan manis

Alam kreasi kita adalah sisi gelap kita, itu terlahir dari jiwa kita juga, bukan jiwa orang lain, kepalsuan kita lahir dari kita yang asli.

Dunia ini terjadi keburukan bukan kehendak yang maha kuasa, tapi kebaikan dan keburukan terjadi di alam kreasi sang pencipta

Yang dibalik cermin tidak lebih terang dari yg dibalik cermin.

Yang dibalik cermin tidak ada yg setara dengannya, karna hanya bayangannya yang ada didalam cermin bukan selainNya.

-salam toleransi-

Achmad Rizky Edward Siahaan

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...