Cerita kita dimulai dari sebuah pertemuan. Itu yang kuingat. Tak perlu waktu lama-lama menjalin hubungan pra intim dengan kalian, hanya dengan sekali pertemuan kalian langsung menjadi orang-orang terdekatku.
Kedekatan kita juga disempurnakan dengan kenakalan di masa itu. Maafkan aku kawan, dulu aku hanya mampu menemani kalian meminum anggur dan vodka. Tapi aku tak bisa ikut meminumnya.
Kehangatan kita juga diimbangi dengan rasa saling peduli. Dan aku pun harus meminta maaf, karena tak bisa mengikuti ajakan kalian untuk menghabiskan waktu di club malam.
Keceriaan kita menerpa rinai dan skala apapun. Waktu tak berada pada posisi penting. Tapi akupun harus meminta maaf karena harus segera pulang. Aku tak bisa habiskan waktu bermabuk-mabukan dengan kalian.
Diskusi kita yang dahulu sangat sehat, kini harus berhenti karena kebencian menjerat.
Saudaraku tercinta. Kita harus percaya, bahwa agama kita hanya sebatas Ahok.
Kalian akan berteriak bila membaca surat ini, karena ada kebaikan dalam diri kalian yang berusaha ditutupi sengan sebuah nilai yang kalian anggap "cinta". Cinta Agama.
Sebagian dari kalian telah menghina dan menghabiskan waktu untuk menggunjingku serta teman-teman lain yang mungkin juga dulunya adalah orang-orang yang menuangkan anggur dalam cawan setan kalian.
Saat ini kalian menjadi galak dan tak terkendali. Kalian menjadi monster yang kelaparan akan sebuah hakikat dan seakan tidak ada jalan lain menuju surga selain mengkafirkan Ahok dan memenjarakan Ahok.
Suratku untuk Habieb Rizieq, kalian anggap dukunganku pada Ahok. Surat itu juga kalian sebar dan kalian klaim sebagai penghinaanku pada Habieb Rizieq.
Saudaraku tercinta. Mengapa kalian harus kehilangan akal sehat beriringan dengan kebangkitan kalian menjadi pembela agama?
Mengapa hubungan yang lama kita bangun harus pupus karena videoku yang mengucapkan selamat natal dengan topi santa?
Apakah iman kalian menjadi sempurna dengan penghinaan kepadaku yang dahulu kalian hina aku karena aku tak sebejat kalian?
Kalian telah menjadi pembela agama. Kalian telah menjadi penolong Islam. Kalian telah menjadi martir risalah. Kalian adalah orang yang paling berhak menganggap selain kalian adalah sesat.
Tapi sadarlah, Aku tau kalian sampai saat ini.
Bila kalian asingkan aku karena suratku untuk Habieb Rizieq, maka bagaimana dengan surat dokter palsu yang kalian rekayasa untuk menebus obat-obatan yang seharusnya tak kalian konsumsi?
Bila Kalian menjadikanku ancaman bagi agama kalian hanya karena aku mengenakan topi santa, bagaimana dengan kendaraan pemberian orang tua kalian, yang kalian gunakan sebagai transportasi menuju tempat-tempat yang tidak memuliakan Allah?
Bila hanya dengan toleran kepada non muslim kalian anggap bahwa aku telah menunjukkan lemahnya Islam di hadapan mereka, lalu bagaimana dengan para kafir yang membantu kalian bangkit dan berjalan saat alkohol melemahkan badan kalian?
Come on guys! Hentikan sandiwara bodoh ini. Kalian masih dalam belenggu kebejatan remaja. Kalian masih terjerumus pada pesta anti ketuhanan. Kalian masih bersandar pada barang-barang gelap yang sejatinya dibenci Allah. Dan di waktu yang bersamaan kalian teriakkan:
"PENJARAKAN PENISTA AGAMA!!"
Renungkan sobat! Siapa yang benar-benar menista agama?
- SALAM TOLERANSI -
Oleh: Acin Muhdor