Skip to main content

Toleransi agama mungkinkah?

Keresahan masyakat terhadap kelompok kelompok berbasis agama sudah sangat nyata, dari setiap kalangan mulai mencium efek ini, dari musisi, pebisnis, pegawai kantoran bahkan ibu rumah tangga.

Bukannya secara langsung kelompok kelompok agama ini boleh disalahkan, tapi dampak yang menghadirkan Keresahan dianggap merusak kenyamanan bermasyarakat dan bersosial.

Agama dianggap mendasari setiap sesuatu dan setiap perbuatan, karna agama dianggap mempunyai seluruh tata cara kehidupan, secara umum benar, memang agama menata perilaku hidup dan tatacaranya, tapi bukan seluruhnya, misalnya kita makan, mandi, tidur, berkendara, dll agama punya tata caranya, yg seolah olah membenarkan argument diatas, tapi kalo kita coba buktikan, apakah bisa beli makanan diwarteg pake agama, mandi pake agama artinya ga pake sabun dan shampo, tidur pake agama tanpa kasur dan bantal, berkendara dengan kendaraan agama ga perlu pesen gojek, grab atau uber.

Untuk urusan sosial pun ok kita coba dengan pendekatan agama, pemimpin harus seagama, tapi apakah mungkin memimpin tanpa intrument dan fasilitas yang diperlukan dalam kepemimpinan, harus nya itu bisa dipahami sebagai hal yang mustahil

Agama sebenarnya baik dan dibutuhkan, tapi efek yang ditimbulkan oleh orang yang mengaku menggunakan agama dalam kehidupan justru tidak memberikan kesan kesan yang terpuji, akhirnya agama ditampilkan bukan sebagai mana mestinya, jadi wajar banyak orang orang mulai jenuh dengan isu agama, janji agama, perintah agama, dan berujung pada tidak meyakini agama sebagai sesuatu yang memiliki nilai

Mungkin para pendakwah yang berhati baik dan berakal sehat juga menyadari ini, mereka lama lama merasakan malu dari efek agama yang membuat masyarakat phobia, sehingga menjadi pesimis untuk menawarkan jalan jalan keselamatan yang semu.

Akhirnya kita bingung, apakah ada cara mendekatkan diri ke pada tuhan tanpa jalur yg sudah pernah ditawar agamawan.

Sebagian lagi mungin curiga, apakah  ini kesengajaan Tuhan dalam melakukan keanekaragaman, sehingga mahluk menerima toleransi sebagai wahyu, atau ketidak berdayaan Tuhan dalam mengatur ciptaan Nya, sehingga Tuhan butuh penilaian mahluk untuk mengenal dirinya sebagai sumber penciptaan.

-salam toleransi-

Achmad Rizky Edward Siahaan

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...