Skip to main content

BELUM SAATNYA BERISTIRAHAT

SURAT SEDERHANA UNTUK GARUDAKU
-----------------------------------------------------------------

Oleh: Acin Muhdor

Garudaku, sayapmu kini lungkrah karena napas takdir berhembus keras menyeka sisiran bulu-bulu perkasamu.

Namun kau tetap tak boleh beristirahat saat ini, karena masih banyak air mata yang membanjiri bumi pertiwi. Kau harus mengusapnya, memberikan mereka roti dan susu, menghiburnya, lalu menidurkannya kembali.

Garudaku, cengkramanmu kini tak sekuat dulu. Karena banyaknya bakteri yang menggerogoti telapakmu.

Namun kau harus tetap mencengkram sekuatmu, karena sudah banyak dari kita yang jatuh dari ketinggian serta terhempas jauh dan masuk dalam cengkraman musuh-musuhmu.

Garudaku, tatapanmu yang dahulu garang, membuat kami semua terenyuh, kini di berbagai wilayah telah terkibar bendera-bendera setan untuk menyaingimu.

Namun kau tetap harus selalu menatap garang, bahkan lebih garang. Karena kami belum rela melihat kau disiksa dengan kebinatangan mereka atas nama Tuhan. Dan kami tidak percaya ada Tuhan yang membiarkan kau disakiti.

Garudaku, terbanglah setinggi yang kau mampu. Sudah saatnya napas kami menggantikan napas takdir yang telah menyakitimu. Karena kami percaya, Tuhan sejati tak mengubah takdir bila kami tak mengubahnya.

Garudaku, kokohkan cengkramanmu. Kami akan turut membantu sekuat kami untuk menjaga yang tersisa saat ini. Bila atas nama "keadilan" mereka halalkan segala cara untuk memotong jemarimu. Akan kami hapus kata "keadilan" dari kamus kami, sebelum kami tebas para pengobral keadilan imitasi. .

Garudaku, tetaplah menjadi kebanggaan kami. Bila para pengkhianatmu menggotong tuhan-tuhan kecil dan mengorbankan para tuhan itu untuk menyingkirkanmu dari bumi kami. Akan kami lawan semua tuhan mereka, Karena bumi ini dibangun atas nama Tuhan, tapi bukan tuhan-tuhan kecil yang mereka jajakan.

Belum saatnya beristirahat, perjalanan masih panjang dan kedepannya akan lebih melelahkan.

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Beda Untuk Damai (Film Pendek)

Film ini menceritakan tentang kehidupan anak - anak yang di bumbui dengan konflik di antara mereka sampai mereka berhasil memecahkan masalah mereka....