Oleh: Agen Acin Muhdor
Selama ini kita kenal Amerika sebagai negara dengan pemerintahan yang diskriminatif terhadap umat Islam.
Jalinan erat dan bantuan segala aspek kepada Israel untuk menaklukkan Palestine juga kerap dilakukan oleh Amrik.
Di berbagai negara muslim seruan "Say No To US" dan "Israhell go to hell" berdampingan dalam peringatan-peringatan menolak diskriminasi atas Palestin.
Termasuk Indonesia, sebagai negara dengan muslim terbanyak di dunia. Tidak jarang meyelenggarakan aksi tolak US dan Israel.
Islam kita seolah telah sepakat, bahwa Amerika adalah negara anti Islam. Ditambah dengan hasil kongkres US beberapa waktu lalu di mana kepresidenannya saat ini berada di tangan Donald Trump, yang (fasis)anti Islam.
Tapi ada scene yang menarik, di negri yang anti Islam itu, ada semacam hal yang paradoks.
Di Indonesia, muslim mayoritas dengan dasar negara yang menjunjung tinggi kebhinnekaan.
Di Amerika, muslim minoritas dan Presidennya anti kebhinnekaan.
Ini ajaib! Bila di negara yang mayoritas muslim, tidak memberikan keamanan dan kenyamanan bagi warga non muslim. Apakah Islam sebagai cara hidup telah jauh dari moral? Artinya, seluruh nilai-nilai kekudusan warisan risalah hanya dongeng yang harus diubah dengan nilai-nilai baru? Kita harus malu.
Hal yang paradoks kita saksikan di beberapa bagian negara Amerika serikat. Di saat kekuatan dan berbagai fasilitas disediakan oleh pemerintah agar mayoritas leluasa
mendiskriminasi muslim(minoritas), moral sense justru tumbuh subur dan memanggil jiwa-jiwa mayoritas di sana. Mereka tolak kekerasan dan segala bentuk diskriminasi kepada Muslimin. Apakah sejatinya moral milik mereka?
- SALAM TOLERANSI -