Skip to main content

Cinta dan Toleransi




Kita sudah sering mendengar teriakan akan toleransi, atau membeca tulisan tentang ajakan toleransi, tetapi apa yang kita dengar dan baca tentangnya tak sepenuhnya masuk ke dalam hati yang terdalam. Semua itu hanya sekedar lewat di telinga dan sejenak singgah di dalam mulut, lalu bacaan-bacaan itu hilang entah ke mana.


Boleh dikata, negeri ini sangat krisis akan nilai toleransi (tasamuh). Bagaimana tidak, beberapa tahun terakhir, sederet konflik SARA sangat sering kita saksikan. Itu menjadi bukti bahwa ada sebuah ketidakberesan di dalam lanskap sosial kita, terlebih ketidakberesan itu ada pada diri masing-masing pribadi.


Berbinacang soal toleransi, maka izinkan saya untuk menghdirkan sebuah kosa-kata yang sangat digandrungi hampir semua orang, yakni cinta. Iya, bagi saya, toleransi dan cinta adalah dua unsur yang saling berkaitan. Bisa dipastikan, orang yang tak toleran, maka unsur cinta yang ada dalam dirinya terbengkalai, ia tak berfungsi sebagaimana mestinya.
Sebab, sesungguhnya toleransi itu hadir dari sebuah cinta. Jika unsur cinta itu berfungsi dengan baik, maka ia akan melahirkan nilai-nilai toleransi dalam dirinya. Sederhana saja, misal ia selalu menghargai orang lain, sebab di situ ada rasa cinta yang mengkaitkan antara dirinya dengan orang itu. Dan seterusnya.


Seandainya setiap kita selalu mencintai antarsesama, secara perlahan kita akan memperlakuakan mereka dengan penuh kasih sayang. Nah, kasih sayang itulah yang nantinya melahirkan jiwa-jiwa yang toleran. Dengan kata lain, Tidak mudah baperan di saat melihat ada perbedaan yang membentang di hadapannya.
Oleh karenanya, menumbuhkan rasa cinta yang ada dalam diri kita itu sangat penting. Setiap kita dibekali rasa cinta, suka dan mengasihi. Hanya saja, unsur-unsur itu tak berfungsi. Maka itu, tugas kita adalah menumbuhkan dan membangunkannya, di mana selama ini ia terlelap dalam tidur panjanganya. Dengan begitu, niscaya sedikit demi sedikit kita bisa mewujudkan sebuah kehidupan yang saling menghargai antara satu sama lainnya.


Sebab, kita dicipta untuk saling mengenal. Maka, apalah kita bila hanya ingin hidup sendiri, pengen menang sendiri, tidak mau membuka sayap lebar-lebar demi menjalin hubungan kepada siapa saja, tanpa pernah memandang perbedaan yang ada. Yang terpenting, tumbuhkan kembali cinta yang kita punya, di situlah kita baru akan merasa bahwa berbeda itu indah.

Oleh:  Ali Ridho

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...