Kita sudah sering mendengar
teriakan akan toleransi, atau membeca tulisan tentang ajakan toleransi, tetapi
apa yang kita dengar dan baca tentangnya tak sepenuhnya masuk ke dalam hati
yang terdalam. Semua itu hanya sekedar lewat di telinga dan sejenak singgah di
dalam mulut, lalu bacaan-bacaan itu hilang entah ke mana.
Boleh dikata, negeri ini sangat krisis
akan nilai toleransi (tasamuh). Bagaimana tidak, beberapa tahun terakhir,
sederet konflik SARA sangat sering kita saksikan. Itu menjadi bukti bahwa ada
sebuah ketidakberesan di dalam lanskap sosial kita, terlebih ketidakberesan itu
ada pada diri masing-masing pribadi.
Berbinacang soal toleransi, maka
izinkan saya untuk menghdirkan sebuah kosa-kata yang sangat digandrungi hampir
semua orang, yakni cinta. Iya, bagi saya, toleransi dan cinta adalah dua unsur
yang saling berkaitan. Bisa dipastikan, orang yang tak toleran, maka unsur
cinta yang ada dalam dirinya terbengkalai, ia tak berfungsi sebagaimana
mestinya.
Sebab, sesungguhnya toleransi itu
hadir dari sebuah cinta. Jika unsur cinta itu berfungsi dengan baik, maka ia
akan melahirkan nilai-nilai toleransi dalam dirinya. Sederhana saja, misal ia
selalu menghargai orang lain, sebab di situ ada rasa cinta yang mengkaitkan
antara dirinya dengan orang itu. Dan seterusnya.
Seandainya setiap kita selalu
mencintai antarsesama, secara perlahan kita akan memperlakuakan mereka dengan
penuh kasih sayang. Nah, kasih sayang itulah yang nantinya melahirkan jiwa-jiwa
yang toleran. Dengan kata lain, Tidak mudah baperan di saat melihat ada
perbedaan yang membentang di hadapannya.
Oleh karenanya, menumbuhkan rasa
cinta yang ada dalam diri kita itu sangat penting. Setiap kita dibekali rasa
cinta, suka dan mengasihi. Hanya saja, unsur-unsur itu tak berfungsi. Maka itu,
tugas kita adalah menumbuhkan dan membangunkannya, di mana selama ini ia
terlelap dalam tidur panjanganya. Dengan begitu, niscaya sedikit demi sedikit
kita bisa mewujudkan sebuah kehidupan yang saling menghargai antara satu sama
lainnya.
Sebab, kita dicipta untuk saling
mengenal. Maka, apalah kita bila hanya ingin hidup sendiri, pengen menang
sendiri, tidak mau membuka sayap lebar-lebar demi menjalin hubungan kepada
siapa saja, tanpa pernah memandang perbedaan yang ada. Yang terpenting,
tumbuhkan kembali cinta yang kita punya, di situlah kita baru akan merasa bahwa
berbeda itu indah.
Oleh: Ali Ridho