Skip to main content

Mereka Punya Bahasa Universal

agen toleransi
Oleh: Aris Karisma, Comica.

Suatu waktu, menjelang sore. Ketika aku duduk-duduk di teras rumah. Menikmati secangkir teh hangat.
Aku tiba tiba mengerti apa yg dikatakan binatang dan tumbuhan. Mungkin ini sekedar kegilaan. Namun aku mengerti.

Mereka punya bahasa yg universal, menghubungkan semua menjadi satu. Bahasa yg utuh dan bisa dimengerti tanpa dipelajari.

Aku mendengar pembicaraan, seekor burung. Bagaimana ia membentangkan sayapnya & bercerita bagaimana bumi terlihat dr atas sana.

Semut mengajarkan kerjasama. Sistem yg mereka jalani setiap hari. Bekerja keras, berbagi makanan, demi sesama. Dan, aku yakin ketika aku mendengar satu persatu dari binatang itu berbicara, tak ada satupun yg bercerita mengenai Agama.

Mereka hanya berbicara mengenai hidup, bagaimana mengisinya, dan bagaimana mereka menjalaninya, dari hari ke hari.

Aku yakin, jika aku bertemu singa, mungkin dia akan berbicara mengenai wibawa.
Dan mungkin, lebah bercerita mengenai madu-madu yg dikumpulkannya.

Dan, aku tak ingin mereka tau, kalau aku mengerti apa yg mereka bicarakan. Karena aku tak punya apa apa untuk diceritakan.

Lebih lebih, mungkin mereka akan marah, atas exploitasi hewan dan tumbuhan yg kaumku lakukan.
Lagipula? Apa yg aku punya? Cerita genosida, penjarahan, penculikan, pembunuhan atas sesama?
Dan, aku menyebut diriku manusia, yg mengaku punya akal budi. Ciptaan yg paling tinggi?
Dan aku menyebut diriku manusia & menganggap diriku lebih dari binatang binatang yg aku dengar ceritanya.

Di mana kenyataannya, kita hanyalah para egois, perampok, penjajah, pembunuh. Inilah manusia! Mahluk ciptaan paling tinggi derajatnya.

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...