
Oleh: Aris Karisma, Comica.
Suatu waktu, menjelang sore. Ketika aku duduk-duduk di teras rumah. Menikmati secangkir teh hangat.
Aku tiba tiba mengerti apa yg dikatakan binatang dan tumbuhan. Mungkin ini sekedar kegilaan. Namun aku mengerti.
Mereka punya bahasa yg universal, menghubungkan semua menjadi satu. Bahasa yg utuh dan bisa dimengerti tanpa dipelajari.
Aku mendengar pembicaraan, seekor burung. Bagaimana ia membentangkan sayapnya & bercerita bagaimana bumi terlihat dr atas sana.
Semut mengajarkan kerjasama. Sistem yg mereka jalani setiap hari. Bekerja keras, berbagi makanan, demi sesama. Dan, aku yakin ketika aku mendengar satu persatu dari binatang itu berbicara, tak ada satupun yg bercerita mengenai Agama.
Mereka hanya berbicara mengenai hidup, bagaimana mengisinya, dan bagaimana mereka menjalaninya, dari hari ke hari.
Aku yakin, jika aku bertemu singa, mungkin dia akan berbicara mengenai wibawa.
Dan mungkin, lebah bercerita mengenai madu-madu yg dikumpulkannya.
Dan, aku tak ingin mereka tau, kalau aku mengerti apa yg mereka bicarakan. Karena aku tak punya apa apa untuk diceritakan.
Lebih lebih, mungkin mereka akan marah, atas exploitasi hewan dan tumbuhan yg kaumku lakukan.
Lagipula? Apa yg aku punya? Cerita genosida, penjarahan, penculikan, pembunuhan atas sesama?
Dan, aku menyebut diriku manusia, yg mengaku punya akal budi. Ciptaan yg paling tinggi?
Dan aku menyebut diriku manusia & menganggap diriku lebih dari binatang binatang yg aku dengar ceritanya.
Di mana kenyataannya, kita hanyalah para egois, perampok, penjajah, pembunuh. Inilah manusia! Mahluk ciptaan paling tinggi derajatnya.