Skip to main content

Hati yang Bersih Melahirkan Tindakan yang Baik

agen toleransi


Mengutip sebuah pendapat dari Ibn ‘Arabi, ia mengatakan, bahwa puncak kemuliaan manusia—sesuai dengan hadis takhallaqu bi akhlak Allah—adalah berakhlak (baca: bermoral) dengan Akhlak Allah. Dan Muhammad Saw. adalah manifesatasi puncak dari akhlak Allah itu sendiri.

Tak bisa kita bantah lagi, bahwa akhlak (moral) merupakan ihwal penting yang harus dimiliki setiap orang. Gampangnya, akhlak dipahami sebagai tindakan yang baik yang lahir dari hati yang baik pula. Bisa dipastikan, jika hati seseorang baik, niscaya tindakannya pun juga baik.

Boleh jadi, tindakan yang buruk itu lahir dari hati yang buruk juga. Walhasil, baik-buruk tindakan seseorang itu bergantung pada hati dan hal-hal yang terkait dengan sisi batiniyah-nya. Jika begitu, kita bisa menarik kesimpulan, bahwa tindakan buruk seseorang (su’ul fi’li) mencerminkan adanya sebuah anomali di dalam sisi jiwanya.

Seperti tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sebagian saudara-saudara seiman atau se-manusia kita, dengan cara mengintimidasi orang-orang lemah; menyalahkan yang tak sepaham dengan mereka; bahkan rela membunuh hanya karena hal sepele. Tentu sederet konflik itu mencerminkan akan tindakan mereka yang buruk, yang juga sangat bertentangan dengan hati nurani manusia.

Untuk mengubah dari tindakan yang buruk ke tindakan yang baik, mau tidak mau kita harus merawat hati dan jiwa kita sebaik mungkin, dan kebaikan hati itu nantinya akan melahirkan sikap-sikap yang positif yang di dalam Islam disebut akhlak mulia (akhlakul kariimah).

Jika akhlak yang baik sudah menjadi karakter dalam diri manusia, bukan hal yang mustahil bila ia meraih kemuliaan dalam hidupnya, sebagaimana Rasulullah Saw. yang merupakan pengejewantahan akhlak Allah, yang di dalam al-Quran ia dipuji oleh-Nya, sebab akhlaknya yang begitu agung.

“Sungguh engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).

Akhir kata, hati yang baik melahirkan tindakan yang baik, tindakan yang baik mampu memwujudkan kedamaian dan ketentraman di tengah lingkungan kita.

Salam toleransi.


Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Mereka Punya Bahasa Universal

Oleh: Aris Karisma, Comica. Suatu waktu, menjelang sore. Ketika aku duduk-duduk di teras rumah. Menikmati secangkir teh hangat. Aku tiba tiba mengerti apa yg dikatakan binatang dan tumbuhan. Mungkin ini sekedar kegilaan. Namun aku mengerti. Mereka punya bahasa yg universal, menghubungkan semua menjadi satu. Bahasa yg utuh dan bisa dimengerti tanpa dipelajari. Aku mendengar pembicaraan, seekor burung. Bagaimana ia membentangkan sayapnya & bercerita bagaimana bumi terlihat dr atas sana. Semut mengajarkan kerjasama. Sistem yg mereka jalani setiap hari. Bekerja keras, berbagi makanan, demi sesama. Dan, aku yakin ketika aku mendengar satu persatu dari binatang itu berbicara, tak ada satupun yg bercerita mengenai Agama. Mereka hanya berbicara mengenai hidup, bagaimana mengisinya, dan bagaimana mereka menjalaninya, dari hari ke hari. Aku yakin, jika aku bertemu singa, mungkin dia akan berbicara mengenai wibawa. Dan mungkin, lebah bercerita mengenai madu-madu yg dikumpulkannya. Dan, aku ...