
Mengutip sebuah pendapat dari Ibn
‘Arabi, ia mengatakan, bahwa puncak kemuliaan manusia—sesuai dengan hadis takhallaqu
bi akhlak Allah—adalah berakhlak (baca: bermoral) dengan Akhlak Allah. Dan Muhammad
Saw. adalah manifesatasi puncak dari akhlak Allah itu sendiri.
Tak bisa kita bantah lagi, bahwa
akhlak (moral) merupakan ihwal penting yang harus dimiliki setiap orang. Gampangnya,
akhlak dipahami sebagai tindakan yang baik yang lahir dari hati yang baik pula.
Bisa dipastikan, jika hati seseorang baik, niscaya tindakannya pun juga baik.
Boleh jadi, tindakan yang buruk
itu lahir dari hati yang buruk juga. Walhasil, baik-buruk tindakan seseorang
itu bergantung pada hati dan hal-hal yang terkait dengan sisi batiniyah-nya.
Jika begitu, kita bisa menarik kesimpulan, bahwa tindakan buruk seseorang (su’ul
fi’li) mencerminkan adanya sebuah anomali di dalam sisi jiwanya.
Seperti tindakan-tindakan
kekerasan yang dilakukan oleh sebagian saudara-saudara seiman atau se-manusia
kita, dengan cara mengintimidasi orang-orang lemah; menyalahkan yang tak
sepaham dengan mereka; bahkan rela membunuh hanya karena hal sepele. Tentu sederet
konflik itu mencerminkan akan tindakan mereka yang buruk, yang juga sangat
bertentangan dengan hati nurani manusia.
Untuk mengubah dari tindakan yang
buruk ke tindakan yang baik, mau tidak mau kita harus merawat hati dan jiwa
kita sebaik mungkin, dan kebaikan hati itu nantinya akan melahirkan sikap-sikap
yang positif yang di dalam Islam disebut akhlak mulia (akhlakul kariimah).
Jika akhlak yang baik sudah
menjadi karakter dalam diri manusia, bukan hal yang mustahil bila ia meraih
kemuliaan dalam hidupnya, sebagaimana Rasulullah Saw. yang merupakan pengejewantahan
akhlak Allah, yang di dalam al-Quran ia dipuji oleh-Nya, sebab akhlaknya yang begitu
agung.
“Sungguh engkau (Muhammad)
berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).
Akhir kata, hati yang baik
melahirkan tindakan yang baik, tindakan yang baik mampu memwujudkan kedamaian
dan ketentraman di tengah lingkungan kita.
Salam toleransi.