
Setiap manusia dibekali komponen
yang menjadi penyempurna dalam dirinya. Seperti akal. Dengan akal manusia bisa
menjadi makhluk sempurna dibanding dengan makhluk lainnya, setamsil binatang.
Di dalam ilmu logika, akal
disebut-sebut sebagai pembeda (fashl) antara manusia dengan makhluk
lainnya, yang kalau kita definisikan
dari manusia berarti ‘binatang yang berpikir’ (al-insan hayawanu
an-nathiq).
Dari sini, kita bisa memahami
bahwa manusia itu sempurna dengan kehadiran akal yang ada dalam dirinya. Tanpa akal,
ia tak ubahnya seperti binatang pada umumnya. Di samping sempurna dengan akal,
ia sempurna dengan kehadiran sifat penyayang, pendamai yang tersemat dalam
dirinya.
Tentunya, masih ada lagi komponen
yang dapat berperan sebagai penyempurna manusia, tetapi di sini saya hanya akan
menyinggung soal keduanya, yang telah saya paparkan di atas. Jika begitu, hendaknya akal dan sifat penyayang itu
bisa berjalan secara sinergi, bekerja sama dalam diri seseorang untuk
mewujudkan sikap yang positif.
Artinya, sejak dari awal
penciptaan manusia, ia diharapkan bisa menjadi orang-orang yang selalu menyayangi
sesama, sebagaimana Allah, yang merupakan Zat Maha Penyayang, Maha Pengasih dan
sebagainya.
Dari situ, manusia memiliki keinginan untuk hidup damai,
tentram, pengin disayangi dan menyayangi, dan semua itu merupakan fitrah yang
dimiliki hampir setiap orang. Maka, jika
ada orang yang bertentangan dengan
sederet keinganan di atas, secara tidak langsung ia telah menentang fitrahnya
sendiri.
Tak bisa kita mungkiri, bahwa
orang-orang yang membuat kekacauan di tengah masyarakat, dengan sikap-sikapnya
yang keras dan intoleran terhadap sesama, sudah bisa dipastikan bahwa ia telah
menentang fitrahnya.
Hendaknya kita selalu berkaca
kepada Allah, menjadikan sifat-sifat-Nya, terlebih sifat Penyayang, Pengasih,
dan Pemaaf-Nya, sebagai acuan demi mewujudkan perdamaian di lingkungan kita.
Apalah gunanya hidup bila hanya ingin membuat kerusakan dan memecahbelah
manusia dengan berbagai cara.
Maka, sebagai bahan kontemplasi,
mari sejenak kita renungkan firman Allah yang mengajak kita pada kebaiakan,
sebab tiada tujuan kusus dalam hidup ini, kecuali berbuat baik kepada sesama
manusia.
“Sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. An-Nahl:
90).