Skip to main content

Sikap Intoleran Menentang Fitrah?

agen toleransi


Setiap manusia dibekali komponen yang menjadi penyempurna dalam dirinya. Seperti akal. Dengan akal manusia bisa menjadi makhluk sempurna dibanding dengan makhluk lainnya, setamsil binatang.

Di dalam ilmu logika, akal disebut-sebut sebagai pembeda (fashl) antara manusia dengan makhluk lainnya, yang kalau kita definisikan  dari manusia berarti ‘binatang yang berpikir’ (al-insan hayawanu an-nathiq).

Dari sini, kita bisa memahami bahwa manusia itu sempurna dengan kehadiran akal yang ada dalam dirinya. Tanpa akal, ia tak ubahnya seperti binatang pada umumnya. Di samping sempurna dengan akal, ia sempurna dengan kehadiran sifat penyayang, pendamai yang tersemat dalam dirinya.

Tentunya, masih ada lagi komponen yang dapat berperan sebagai penyempurna manusia, tetapi di sini saya hanya akan menyinggung soal keduanya, yang telah saya paparkan di atas. Jika  begitu, hendaknya akal dan sifat penyayang itu bisa berjalan secara sinergi, bekerja sama dalam diri seseorang untuk mewujudkan sikap yang positif.

Artinya, sejak dari awal penciptaan manusia, ia diharapkan bisa menjadi orang-orang yang selalu menyayangi sesama, sebagaimana Allah, yang merupakan Zat Maha Penyayang, Maha Pengasih dan sebagainya.

Dari situ,  manusia memiliki keinginan untuk hidup damai, tentram, pengin disayangi dan menyayangi, dan semua itu merupakan fitrah yang dimiliki  hampir setiap orang. Maka, jika  ada orang yang bertentangan dengan sederet keinganan di atas, secara tidak langsung ia telah menentang fitrahnya sendiri.

Tak bisa kita mungkiri, bahwa orang-orang yang membuat kekacauan di tengah masyarakat, dengan sikap-sikapnya yang keras dan intoleran terhadap sesama, sudah bisa dipastikan bahwa ia telah menentang fitrahnya.

Hendaknya kita selalu berkaca kepada Allah, menjadikan sifat-sifat-Nya, terlebih sifat Penyayang, Pengasih, dan Pemaaf-Nya, sebagai acuan demi mewujudkan perdamaian di lingkungan kita. Apalah gunanya hidup bila hanya ingin membuat kerusakan dan memecahbelah manusia dengan berbagai cara.

Maka, sebagai bahan kontemplasi, mari sejenak kita renungkan firman Allah yang mengajak kita pada kebaiakan, sebab tiada tujuan kusus dalam hidup ini, kecuali berbuat baik kepada sesama manusia.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. An-Nahl: 90).




Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Mereka Punya Bahasa Universal

Oleh: Aris Karisma, Comica. Suatu waktu, menjelang sore. Ketika aku duduk-duduk di teras rumah. Menikmati secangkir teh hangat. Aku tiba tiba mengerti apa yg dikatakan binatang dan tumbuhan. Mungkin ini sekedar kegilaan. Namun aku mengerti. Mereka punya bahasa yg universal, menghubungkan semua menjadi satu. Bahasa yg utuh dan bisa dimengerti tanpa dipelajari. Aku mendengar pembicaraan, seekor burung. Bagaimana ia membentangkan sayapnya & bercerita bagaimana bumi terlihat dr atas sana. Semut mengajarkan kerjasama. Sistem yg mereka jalani setiap hari. Bekerja keras, berbagi makanan, demi sesama. Dan, aku yakin ketika aku mendengar satu persatu dari binatang itu berbicara, tak ada satupun yg bercerita mengenai Agama. Mereka hanya berbicara mengenai hidup, bagaimana mengisinya, dan bagaimana mereka menjalaninya, dari hari ke hari. Aku yakin, jika aku bertemu singa, mungkin dia akan berbicara mengenai wibawa. Dan mungkin, lebah bercerita mengenai madu-madu yg dikumpulkannya. Dan, aku ...