Skip to main content

Sejatinya Kita Masih Tersesat

agen toleransi

Meminjam Istilah Cak Nun, bahwa kebanyakan kita itu lebih banyak tidak tahu ketimbang tahu. Artinya, kita mengetahui sedikit hal, dan tidak mengetahui banyak hal. Itulah manusia. sederhanya, setelah kita menyadari bahwa diri kita ini lebih banyak tidak tahunya ketimbang tahu, lalu buat apa kita bersikap menjadi ‘sok tahu’ dan menegasikan kelompok lain yang dengannya kita juga tidak tahu.

Buat apa saling menyesatkan kalau sejatinya kita sendiri tidak tahu permasalahan yang kita sesatkan. Buat apa saling mengkalaim dirinya benar, lalu menganggap orang lain salah, sesat bahkan kafir, kalau sejatinya dirinya sendiri adalah orang jahil, kalau bahasa kasarnya, orang bodoh. Buat apa mengkalim bahwa surga bakal ia raih, kalau sebenarnnya ia tidak tahu apakah surga itu benar-benar untuknya atau bukan.

Yups, kemabli ke pokok pemasalahan, bahwa sesungguhnya  kita hanya manusia yang sedikit ilmu, tidak banyak tahu akan segala hal. Oleh karenanya, setelah kita menyadari bahwa kita sama-sama orang yang minim pengetahuan, sebaiknya kita memperbaiki diri sendiri, tidak menegasikan orang lain yang tak seragam dengan kita.

Lebih dari itu, sebenarnya kita ini masih tersesat di rimbunnya kehidupan. Setiap kita, saat ini sejatinya sedang melakukan sebuah pencarian, pencarian akan kebenaran, dengan kata lain masih dalam proses mencari kebenaran hakiki, belum final. Makanya, dalam fase pencarian itu, sebenanrnya kita bagaikan seorang yang tersesat di tengah hutan belantara, mencari jalan keluar, agar kita bisa hidup bebas dan bahagia.

Ketersesatan kita di dunia ini bukan tanpa alasan, bukan tanpa bukti. Semua itu sangat gamblang tertulis di dalam firman-Nya, di dalam salah satu surah yang seringkali kita baca saat salat, yakni surah al-Fatihah. Bukankah  di sana termaktub sebuah kalimat “ihdhinas shiratal msutakim” (tunjukkanlah kami jalan yang lurus)? Jika begitu, sangat tidak pantas bila ada salah satu orang menyesatkan orang lain, sementara dirinya sendiri masih berada di jalan yang sesat.

Oleh karenya, mari melangkah bersama, keluar dari jeratan ketersesatan ini, menuju sebuah jalan keluar yang akan membuat kita bahagia di akhirat kelak. Sadarilah, kita masih tersesat, masih mencari jalan keluar, jadi jangan bangga menyesatkan orang lain, apalagi menganggap mereka kafir.


Salam toleransi. 

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Beda Untuk Damai (Film Pendek)

Film ini menceritakan tentang kehidupan anak - anak yang di bumbui dengan konflik di antara mereka sampai mereka berhasil memecahkan masalah mereka....