
Meminjam Istilah Cak Nun, bahwa
kebanyakan kita itu lebih banyak tidak tahu ketimbang tahu. Artinya, kita
mengetahui sedikit hal, dan tidak mengetahui banyak hal. Itulah manusia.
sederhanya, setelah kita menyadari bahwa diri kita ini lebih banyak tidak tahunya
ketimbang tahu, lalu buat apa kita bersikap menjadi ‘sok tahu’ dan menegasikan
kelompok lain yang dengannya kita juga tidak tahu.
Buat apa saling menyesatkan kalau
sejatinya kita sendiri tidak tahu permasalahan yang kita sesatkan. Buat apa
saling mengkalaim dirinya benar, lalu menganggap orang lain salah, sesat bahkan
kafir, kalau sejatinya dirinya sendiri adalah orang jahil, kalau bahasa
kasarnya, orang bodoh. Buat apa mengkalim bahwa surga bakal ia raih, kalau
sebenarnnya ia tidak tahu apakah surga itu benar-benar untuknya atau bukan.
Yups, kemabli ke pokok pemasalahan,
bahwa sesungguhnya kita hanya manusia
yang sedikit ilmu, tidak banyak tahu akan segala hal. Oleh karenanya, setelah
kita menyadari bahwa kita sama-sama orang yang minim pengetahuan, sebaiknya
kita memperbaiki diri sendiri, tidak menegasikan orang lain yang tak seragam
dengan kita.
Lebih dari itu, sebenarnya kita
ini masih tersesat di rimbunnya kehidupan. Setiap kita, saat ini sejatinya
sedang melakukan sebuah pencarian, pencarian akan kebenaran, dengan kata lain
masih dalam proses mencari kebenaran hakiki, belum final. Makanya, dalam fase
pencarian itu, sebenanrnya kita bagaikan seorang yang tersesat di tengah hutan
belantara, mencari jalan keluar, agar kita bisa hidup bebas dan bahagia.
Ketersesatan kita di dunia ini
bukan tanpa alasan, bukan tanpa bukti. Semua itu sangat gamblang tertulis di
dalam firman-Nya, di dalam salah satu surah yang seringkali kita baca saat
salat, yakni surah al-Fatihah. Bukankah di sana termaktub sebuah kalimat “ihdhinas
shiratal msutakim” (tunjukkanlah kami jalan yang lurus)? Jika begitu,
sangat tidak pantas bila ada salah satu orang menyesatkan orang lain, sementara
dirinya sendiri masih berada di jalan yang sesat.
Oleh karenya, mari melangkah
bersama, keluar dari jeratan ketersesatan ini, menuju sebuah jalan keluar yang
akan membuat kita bahagia di akhirat kelak. Sadarilah, kita masih tersesat,
masih mencari jalan keluar, jadi jangan bangga menyesatkan orang lain, apalagi
menganggap mereka kafir.
Salam toleransi.