Skip to main content

Senyuman Membawa Kedamaian

agen toleransi

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?”

“Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku.

Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman.

Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya.

Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi wajah kita dengan senyuman. Tidak mudah memang, tapi tak ada salahnya jika kita mau mencoba. Jangan kita lihat, susah-tidaknya di saat melakukan praktik untuk tersenyum, lakukan saja, niscaya kita akan mendapat banyak manfaat dari senyuaman kita. Mungkin, di awal-awal kita terpaksa untuk tersenyum, namun lama kelamaan, semua akan berjalan begitu saja, tanpa ada rencana sebelumnya.

Di dalam bukunya yang berjudul How To Win Friends and Influnge People, Dale Carnegie memberi kiat agar kita mudah mendapat relasi pertemanan, bisnis dan sebagainya, salah satunya ialah dengan selalu tersenyum. Dengan terus tersenyum, banyak orang yang akan mendekati kita, dan sebaliknya, orang yang pelit memberikan senyumannya kepada orang lain, akan ditinggalkan banyak orang.

Perlu dicatat, jangalah terus tersenyum, nanti dianggapnya gila. Tersenyumlah sekedarnya, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Akhirnya, saya harus katakan, bahwa untuk menciptakan kedamaian di sekitar kita, dengan cara yang sederhana ialah cukup dengan senyuman.

Mari kita tersenyum!



Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Beda Untuk Damai (Film Pendek)

Film ini menceritakan tentang kehidupan anak - anak yang di bumbui dengan konflik di antara mereka sampai mereka berhasil memecahkan masalah mereka....