Skip to main content

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

agen toleransi


Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah.

Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan.

Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demikian. Di saat ada orang yang mencibir kita, tensi darah kita langsung naik, amarah kita seketika memuncak, dan ini sangat wajar, lantaran kita hanya manusia biasa. Pertanyaannya, apakah setiap kekerasan harus dibalas dengan kekerasan? Jawabnya: tidak perlu. Selagi ada jalan lain yang dapat mendamaikan kedua belah pihak, mengapa tak kita coba jalan itu?

Hendaknya kita selalu bersikap layaknya tanah di saat menghdapi orang-orang seperti batu. Sebab bila tanah dipertemukan dengan batu, maka boleh jadi batu itu akan tunduk dengannya, bahkan tanah bisa memambalutnya, bersatu dengannya. Batu pun akan diam dibuatnya. Seperti itulah mestinya sikap-sikap kita ketika menghadapi orang yang keras seperti batu. Kalau pun tanah belum berhasil membuat batu damai, minimal tanah itu tak akan memperpanjang masalah.

Terlepas dari pembahasan di atas, bahwa sebenarnya itulah ajaran Islam maupun ajaran agama langit lainnya yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan dan kedamaian. Dan itu juga sangat sesuai dengan kultur-masyarakat kita, yang sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah dan baik hati di mata dunia.

Akhir kata, jika kita tetap keukeuh  ingin  menjadi seperti  batu, jangan harap masalah dapat kita selesaikan.

Salam toleransi.


Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Mereka Punya Bahasa Universal

Oleh: Aris Karisma, Comica. Suatu waktu, menjelang sore. Ketika aku duduk-duduk di teras rumah. Menikmati secangkir teh hangat. Aku tiba tiba mengerti apa yg dikatakan binatang dan tumbuhan. Mungkin ini sekedar kegilaan. Namun aku mengerti. Mereka punya bahasa yg universal, menghubungkan semua menjadi satu. Bahasa yg utuh dan bisa dimengerti tanpa dipelajari. Aku mendengar pembicaraan, seekor burung. Bagaimana ia membentangkan sayapnya & bercerita bagaimana bumi terlihat dr atas sana. Semut mengajarkan kerjasama. Sistem yg mereka jalani setiap hari. Bekerja keras, berbagi makanan, demi sesama. Dan, aku yakin ketika aku mendengar satu persatu dari binatang itu berbicara, tak ada satupun yg bercerita mengenai Agama. Mereka hanya berbicara mengenai hidup, bagaimana mengisinya, dan bagaimana mereka menjalaninya, dari hari ke hari. Aku yakin, jika aku bertemu singa, mungkin dia akan berbicara mengenai wibawa. Dan mungkin, lebah bercerita mengenai madu-madu yg dikumpulkannya. Dan, aku ...