
Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan
batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi
pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya. Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi,
atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya
untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya
akan menambah masalah.
Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini, yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca.
Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan
sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu
hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian
orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya
langsung dibalas dengan kekerasan.
Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak
usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demikian. Di saat ada orang yang
mencibir kita, tensi darah kita langsung naik, amarah kita seketika memuncak,
dan ini sangat wajar, lantaran kita hanya manusia biasa. Pertanyaannya, apakah
setiap kekerasan harus dibalas dengan kekerasan? Jawabnya: tidak perlu. Selagi ada
jalan lain yang dapat mendamaikan kedua belah pihak, mengapa tak kita coba
jalan itu?
Hendaknya kita selalu bersikap layaknya tanah di saat menghdapi orang-orang
seperti batu. Sebab bila tanah dipertemukan dengan batu, maka boleh jadi batu
itu akan tunduk dengannya, bahkan tanah bisa memambalutnya, bersatu dengannya. Batu
pun akan diam dibuatnya. Seperti itulah mestinya sikap-sikap kita ketika menghadapi
orang yang keras seperti batu. Kalau pun tanah belum berhasil membuat batu
damai, minimal tanah itu tak akan memperpanjang masalah.
Terlepas dari pembahasan di atas, bahwa sebenarnya itulah ajaran Islam
maupun ajaran agama langit lainnya yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai
kebaikan dan kedamaian. Dan itu juga sangat sesuai dengan kultur-masyarakat
kita, yang sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah dan baik hati di mata
dunia.
Akhir kata, jika kita tetap keukeuh ingin menjadi
seperti batu, jangan harap masalah dapat
kita selesaikan.
Salam toleransi.