Skip to main content

Kebaikan Perlu Syarat?

Agen Toleransi- sebuah renungan yang perlu kita resapi dan fikirkan. Mungkin saja ini terjadi pada diri kita, keluarga kita ataupun teman kita. 

suatu hari ada satu rombongan keluarga yang ingin pergi bertamasya. Dalam perjalanan melewati tol, di depan mobil mereka ada kecelakaan. Seketika itu, rombongan keluarga yang ingin bertamasya tersebut berhenti dan turun. Ketika turun seorang lelaki, ia dapati di dalam mobil itu seorang ibu-ibu yang mengalami luka parah.   "Sungguh kasihan kbu itu", ucap seorang lelaki dari rombongan yang turun tersebut dalam hati. Sempat ada niatan untuk menolong. Sebelum menolong, ia tanya terlebih dahulu, karena lelaki itu takut si ibu bukan orang islam. "Maaf, agama ibu apa?" ,Tanya si lelaki yang ingin menolong. "Saya islam", jawab si ibu. "Okke saya akan mnolong ibu", eh tapi ibu islam apa?". Si ibu menjawab"saya sunni pak". "okke satu faham, tapi ibu suni apa ya? Muhammadiyah atau Nu?" Tanya lagi si lelaki itu. Belum sempat si ibu menjawab, karena lukanya begitu parah, yang seharusnya butuh pertolongan cepat, akhirnya tak tertolong.

Sungguh miris jika hal demikian sampai terjadi dalam kehidupan ini. Bayangkan saja jika setiap orang yang sangat butuh pertolongan harus dengan syarat, Apa yang yang terjadi? Jika menolong orang membutuhkan syarat lalu, apa arti sebuah kebaikan??  Padahal Tuhan memberikan kita kebaikan tanpa syarat, mengapa kita begitu angkuhnya menolong tapi harus dengan syarat?

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...