Skip to main content

SOAL TOLERANSI, JANGAN KALAH SAMA HEWAN



Agen Toleransi- Kalo kamu gagal belajar toleransi antar sesame manusia, maka kamu bisa belajar dari hewan!. Mengapa dari  hewan? Agar kita sadar, hewan aja yang gak punya akal bisa bertoleran, kok kita yang punya akal ga bisa? Helllooooooowwwwwwwww selama ini sekolah kemane aje bro?

 Memang manusia itu rumit, kompleks, rebut, rempong, dan lebay. Masalah apa itu toleransi aja bisa dibahas berabad-abad bahkan sampai menghabiskan data paket ber giga-giga. OMG!!!
Sepertinya sudah kepanjangan. Untuk  mempersingkat, mari kita simak saja hubunngan batin yang sangat “religius” dari beberapa hewan berikut. Setelah anda membacanya, mudah-mudahan anda tidak meminta pada Tuhan untuk diciptakan menjadi hewan saja :D

.
1. Bangau dan Sapi


       Bangau dan sapi bisa akur dan bebarengan loh…    Apasih yang membuat mereka akur?. Bangau ternyata akan sangat kesulitan mencari makan jika berada jauh dari si sapi sahabatnya.

      Bangau ini suka makan serangga. Setiap sapi melangkah pindah saat merumput, ada serangga yang terusik dan pindah dari rerumputan lain. Lalu serangga itu langsung dicaplok bangau dan hap lalu ditelan.

Pa  para Ornitolog (ahli burung) percaya bahwa dengan berada di dekat sapi, bangau dapat menghemat energy saat mencari makan. Jadi,  tak heran kawanan bangau ini sering mengekor di belakang atau samping sapi saat mencari makan.

Bagaimana dengan sapi? Walaupun (mungkin) dia tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari sikap rese’ sibangau, dia tidak lantas mengusir burung-burung berleher panjang itu. mungkin sapi memegang teguh prinsip, lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah.

2.      Ikan badut, Anemon dan Udang


Tiga hewan ini sejak dulu hidup seatap. Bukan poligami, bukan pula masing-masing dari mereka tuna wisma. Kurang luas apa laut sampai mereka memutuskan untuk hidup dilahan sempit?


Ikan badut dan udang tak pernah keluar dari anemone yang menjadi sarangnya. Anemone memiliki racun dari setiap tentakelnya, yang digunakan ikan badut melumuri tubuhnya sehingga para predator menjauhinya. Selain racun itu, ia juga bisa bersembunyi dibalik rimbunnya anemon.udang mirip kaca yang hidup di anemone juga memanfaatkan hal yang sama.


Anemon dapet untung apa? Penelitian di bidang biologi kelautan Univ. Auburn di Alabama, AS menunjukkan bahwa ternyata anemon akan tumbuh lebih cepat dan sehat dengan kehadiran ikan badut. Gerakan lincah ikan badut memudahkan anemon untuk memperoleh oksigen lebih banyak, sehingga metabolisme anemon meningkat.


Jika hewan-hewan diatas hidup damai, itu karena mereka bersikap toleran. Dan kalau masih ada yang bilang toleransi berbeda dengan simbiosis, jangan bodoh! Keduanya hanya berbeda mata pelajaran. Toleransi ada di mata pelajaran agama dan simbiosis ada di mata pelajaran Biologi.


Yang terpenting… jangan sampai bangau, sapi, ikan badut, udang dan anemone lebih toleran dari kita. hanya karena berbeda pendapat, aliran, madzhab, agama lalu kita saling bermusuhan? Hellooowwwww kita punya akal, kenapa gak bersama-sama aja saling memberikan manfaat, biar gak kalah sama hewan :D.  


Salam Toleransi

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...