Skip to main content

Video; Bersama dalam Perbedaan

Perbedaan bukanlah sebuah kata asing dalam bahasa keseharian kita. Perbedaan juga yang melahirkan ragam pandangan terhadap berbagai hal. Perbedaan sudut pandang, perbedaan agama, perbedaan fisik, dan perbedaan-perbedaan lainnya...

Pak Ali, Pak Endar, Pak Aripin dan teman-teman sukarelawan di Walagri Aksara, memiliki latar belakang berbeda-beda namun memiliki kesamaan pandangan terhadap dunia pendidikan. Menjamurnya pendidikan berkualitas yang ada hingga saat ini, ternyata masih minim apresiasi terhadap perbedaan yang ada dalam keseharian kita. Tanpa disadari kita asyik dalam 'kotak' masing-masing dengan minim empati terhadap segala hal yang 'berbeda' diluar diri kita.

Cinengah adalah salah satu daerah dampingan Walagri Aksara. Perjuangan masyarakat Cinengah untuk meningkatkan pendidikan bagi generasi penerusnya menjadi hal yang menyemangati Walagri Aksara untuk ikut berbagi ilmu bersama anak-anak juga para pendidiknya dengan segala potensi yang dimilikinya. Keterbatasan fasilitas tetap diapresiasi dengan keceriaan dan 'kepenasaran' untuk belajar dalam jiwa anak-anak Cinengah dengan atmosfer keluguan khas mereka...

Inti dari setiap kegiatan pembelajaran yang kami lakukan bersama-sama adalah memaknai setiap potensi yang dimiliki di sekitar kita sebagai media untuk pembelajaran hidup. Sehingga setiap jiwa mampu mengenali siapa dirinya dan mengapresiasi potensi yang dimilikinya.

Semoga melalui tayangan sederhana yang disajikan, dapat menajamkan kembali jiwa dan hati kita yang acapkali luput memaknai hal-hal 'kecil' yang terjadi di sekitar kita.

*****
For Character adalah serial film pendek yang mengangkat tema-tema pendidikan karakter berdasarkan kisah nyata.

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...