Skip to main content

Anggun C Sasmi: Indonesia adalah Negara Paling Toleran

agen toleransi
Siapa yang tidak kenal Anggun C Sasmi? Dialah seorang penyanyi dan penulis lagu yang berbakat yang sudah "go international". Sejak memulai karirnya di usia tujuh tahun hingga sekarang, ia memiliki sederet prestasi dan pasti memiliki banyak penggemar. Namun ketenarannya tidak membuatnya lupa akan tanah airnya sendiri, Indonesia.

Dalam sebuah talkshow di salah satu stasiun TV swasta, Anggun menyayangkan bahwa banyak rakyat Indonesia yang menganggap dirinya sudah bukan orang Indonesia. "Padahal kalau saya ada di luar negeri, orang-orang pasti bilang oh, ini orang Indonesia." timpal penyanyi lagu "Mimpi" ini.

Di kesempatan yang sama, dia juga ditanya "Apa yang akan dia lakukan jika menjadi duta Indonesia?" Karena, saat ini dia menyandang gelar sebagai salah satu duta dalam organisasi internasional PBB. Dia mengatakan bahwa jika dia menjadi duta Indonesia, dia akan mengatakan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara paling toleran. Katanya, "Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai toleransi."

Begitulah salah satu pendapat orang yang sudah melalang buana dan melihat berbagai tempat di dunia ini. Jangan menunggu untuk itu, karena yakinlah tidak ada negeri dengan nilai toleransi setinggi negeri kita, Indonesia. Tentunya ini adalah anugerah dan kebanggaan tersendiri bagi kita semua. Maka jagalah nilai toleransi itu, sebarkan pesan toleransi seluas-luasnya. Jangan sampai anak cucu kita nanti akan belajar nilai toleransi dari negara lain, karena negaranya sudah tidak lagi memilikinya.
Salam toleransi.

Popular posts from this blog

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...