Skip to main content

Posts

Bukan Kekerasan, tapi Kelemahlembutan!

Pernahkah kita membayangkan seandainya batu yang keras dipertemukan dengan batu yang keras pula, lalu keduanya kita benturkan? Apa yang terjadi? bisa jadi pecah dua-duanya, atau mungkin pecah salah satunya.  Jika begitu, keduanya bisa sama-sama rugi, atau salah satunya yang rugi dan satunya lagi untung. Kalaupun salah satunya untung, dan satunya rugi, berarti masih ada pihak yang dirugikan. Dan itu hanya akan menambah masalah. Analogi di atas hanya sebuah premis dari tulisan ini,  yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh pembaca. Dari analogi tersebut, saya hendak mengajak pembaca sedikit merenung dan sedikit berpikir, bahwa kekerasan tak perlu dibalas dengan kekerasan, sebab itu hanya akan memperpanjang masalah. Seringnya, kita mendapati bahwa ada sebagian orang, ketika ada yang berbuat jahat padanya  langsung dibalas dengan kekerasan. Memang, kita tak bisa menampik fenomena itu, sebab itu sangat manusiawi. Tak usah jauh-jauh, mungkin kita juga pernah demiki...
Recent posts

Budak Kuantitas

Katanya negeri ini sudah lebih baik, katanya, tapi mengapa masih banyak yang tersingkirkan dan terabaikan dari pandangan banyak orang. Katanya negeri ini sudah maju, katanya, tapi mengapa masih banyak orang yang tak diberi hak untuk bersuara, padahal ia berhak bersuara. Katanya negeri ini sudah adil, katanya, tapi mengapa masih banyak orang yang termarjinalkan dan tersingkirkan, padahal mereka layak untuk dijunjung tinggi. Katanya negeri ini  negeri yang damai, katanya, tapi mengapa banyak orang yang merasa tak nyaman ngejalaini hidupnya. Katanya negeri ini punya orang cerdas, katanya, mengapa mereka tak pernah unjuk gigi. Katanya negeri ini kaya, katanya, tapi mengapa masih banyak yang miskin dan hidup melarat. Ah, masalahnya bukan karena kinerja pemerintah yang merosot, tetapi kebanyakn mereka lebih memperhitungkan kuantitas seseorang ketimbang kualitasnya. Mudahnya begini, setinggi apapun kualitas seseorang, jika dari sisi kuantitasnya tak menduk...

Event Agen Toleransi #Nobar

Hay Guys.... Buat kamu kamu yang mau hadir nonton bid'ah cinta dan sudah booking tiketnya. kami menginformasikan untuk mengikuti event yang kami selenggarakan. gimana caranya? 1. Setelah acara/saat acara kmu selvie di TKP serta di dalam foto itu diberi Captur #NobarMUBIN #NobarAgenToleransi. Setelah itu share keseruan Nobar Kamu di twitter dengan hastag #NobarMUBIN #NobarAgenToleransi CC twitter @AgenToleransi  2. Like Fane Page Agen Toleransi https://web.facebook.com/AgenToleransi/ 3. Follow Twitter Agen Toleransi 4. Share Laman ini ke teman-teman kamu yaa... Pemenangnya akan diumumkan H+1 Semoga kamu beruntung!

Senyuman Membawa Kedamaian

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa kamu senyam-senyum terus, nanti malah dianggap gila lho?” “Senyum itu membawa kedamaian,” jawabku santai. Orang itu pun menganggukkan kepala, “Ooo gitu.” Ia langsung menjauh dariku. Tiada hari tanpa senyum. Mungkin bagi sebagian orang yang mendambakan kedamaian dalam hidupnya, ia tak segan-segan menghiasai wajahnya dengan senyum termanisnya. Ia lemparkan senyumannya kepada setiap orang yang ia temui. Sebab, ia yakin bahwa dengan selalu mengembangkan senyuman, orang lain pun akan merasa nyaman dengannya, ia pun juga nyaman. Yups, mestinya kita juga begitu, berbagi senyuman kepada orang lain. Tapi, kadang kita lebih sering memasang muka cemberut, sehingga orang lain pun tak nyaman dengan kita, yang akhirnya mereka pun menjauh dari kita, atau bisa jadi memusuhi kita, lantaran, bagi mereka, muka cemberut kita menyebalkan, tidak menarik bahkan bikin emosi di saat melihatnya. Makanya, rasa-rasanya penting sekali untuk menghiasi waj...

Sejatinya Kita Masih Tersesat

Meminjam Istilah Cak Nun, bahwa kebanyakan kita itu lebih banyak tidak tahu ketimbang tahu. Artinya, kita mengetahui sedikit hal, dan tidak mengetahui banyak hal. Itulah manusia. sederhanya, setelah kita menyadari bahwa diri kita ini lebih banyak tidak tahunya ketimbang tahu, lalu buat apa kita bersikap menjadi ‘sok tahu’ dan menegasikan kelompok lain yang dengannya kita juga tidak tahu. Buat apa saling menyesatkan kalau sejatinya kita sendiri tidak tahu permasalahan yang kita sesatkan. Buat apa saling mengkalaim dirinya benar, lalu menganggap orang lain salah, sesat bahkan kafir, kalau sejatinya dirinya sendiri adalah orang jahil, kalau bahasa kasarnya, orang bodoh. Buat apa mengkalim bahwa surga bakal ia raih, kalau sebenarnnya ia tidak tahu apakah surga itu benar-benar untuknya atau bukan. Yups, kemabli ke pokok pemasalahan, bahwa sesungguhnya  kita hanya manusia yang sedikit ilmu, tidak banyak tahu akan segala hal. Oleh karenanya, setelah kita menyadari bahwa kita...

Khan Academy

Salman Khan (Sal Khan) bisa memasukkan nama Bill Gates sebagai salah satu penggemarnya. Khan bukan jawara Lembah Silikon, seperti Mark Zuckerberg yang menemukan Facebook atau Andy Rubin yang membuat Google bangkit dengan Android. Khan cuma seorang guru. Khan menghabiskan waktunya di sebuah bekas toilet mini yang ia sulap menjadi studio rekaman sekaligus perpustakaan. Ruangan berukuran 1,5 x 2 meter itu adalah think thank yang dia sebut: bgC3. Di ruang sesak inilah Khan menghabiskan waktunya bersama dua komputer, headphone di telinga, kaus tidur dan piyama, menunggu siang sambil membaca buku atau membuat video. “Orang ini luar biasa,” kata Gates dalam e-mailnya. “Dia mengerjakan banyak hal dengan sumber daya yang amat terbatas.” Mengapa Khan begitu dikagumi Bill Gates? Gates dan anak laki-lakinya yang berumur 11 tahun, Rory, terpana oleh video-video pendidikan bikinan Khan, dari video aljabar sampai biologi. Yang membuat kagum Gates adalah sosok Khan yang meni...

- RENUNGAN PAGI - #19

Jalan yang lurus 100% hanya ada dalam konsep. Di bumi yang Tuhan bentangkan justru tak akan pernah kita temukan itu. Tuhan sengaja ciptakan akal yang memproduksi banyak kemungkinan dan konstruksi pikiran yang darinya lahir jalan raya dengan banyaknya lika-liku, seperti: belok kanan belok kiri, putar balik, perempatan, pertigaan dsb. Semua dianugerahkan, agar kita sadar bahwa ketika kita berada pada sebuah jalan yang (kita anggap) benar, bukan kita satu-satunya yang berjalan di sana. Selamat pagi.. - SALAM TOLERANSI - Oleh: Acin Muhdor