Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2016

Sadar Toleransi

Keberadaan rasa kebersamaan yang tinggi dan kasih sayang antar sesama manusia, akan semakin membuat seseorang merasa bahwa dirinya merupakan makhluk Tuhan yang harus saling menjaga satu sama lain. “Dengan begitu masalah perselisihan, pertengkaran, dan permusuhan, tak akan ada lagi jika kita selalu menjaga kebersamaan dalam kehidupan sosial dan lain sebagainya.” http://www.radarpekalongan.com/90330/toleransi-kunci-dalam-membangun-daerah/, 

Soekarno cinta budaya Indonesia

Sejak kecil, Soekarno sangat menyukai cerita wayang. Dia hapal banyak cerita wayang sejak kecil. Saat masih bersekolah di Surabaya, Soekarno rela begadang jika ada pertunjukan wayang semalam suntuk. Dia pun senang menggambar wayang di batu tulisnya. Saat ditahan dalam penjara Banceuy pun kisah-kisah wayanglah yang memberi kekuatan pada Soekarno. Terinspirasi dari Gatot Kaca, Soekarno yakin kebenaran akan menang, walau harus kalah dulu berkali-kali. Dia yakin suatu saat penjajah Belanda akan kalah oleh perjuangan rakyat Indonesia. “Pertunjukan wayang di dalam sel itu tidak hanya menyenangkan dan menghiburku. Dia juga menenangkan perasaan dan memberi kekuatan pada diriku. Bayangan-bayangan hitam di kepalaku menguap bagai kabut dan aku bisa tidur nyenyak dengan penegasan atas keyakinanku. Bahwa yang baik akan menang atas yang jahat,” ujar Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007...

Grand Syekh Al Azhar: Sunni-Syiah Bersaudara

Jakarta (Pinmas) —- Grand Syekh Al Azhar Prof. Dr. Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb mengatakan bahwa umat Islam yang berakidah Ahlussunah bersaudara dengan umat Islam dari golongan Syiah. “Sunny dan syiah adalah saudara,” terang Syekh Ath-Thayyeb saat dimintai pandangannya oleh Dirjen Bimas Islam Machasin terkait permasalahan Sunny dan Syiah saat melakukan pertemuan di kantor Majelis Ulama Indonesia ( MUI ), Jakarta, Senin (22/02). Hadir dalam kesempatan ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin serta sejumlah ulama dan tokoh cendekiawan muslim. Menurut Syekh Ath-Thayyeb, Islam mempunyai definisi yang jelas. Yaitu, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, menegakkan salat, berpuasa, berzakat, dan beribadah haji bagi yang mampu. “Mereka yang melaksanakan lima hal pokok ini maka dia muslim. Kecuali mereka yang mendustakan,” tegasnya. Grand Syekh menilai bahwa tidak ada masalah prinsip yang menyebabkan kaum Syiah keluar dari Islam. Bahkan, b...

Perlukah Syarat ketika Menolong?

Kawan...mungkin dia bukan saudara kita dalam beragama, namun dia adalah saudara kita dalam kemanusiaan. Islam mengajarkan kita kedamaian, kerukunan, dan persaudaraan. Dalam keseharian, seringkali kita mengajukan banyak syarat untuk menolong seseorang, sehingga terkadang kita lupa, karena terlalu sibuk dengan syarat-syarat itu. Dalam sebuah kisah, diceritakan bahwa dua orang anak muda sedang berkendara. Di tengah jalan, mereka menemui sebuah mobil yang sedang mengalami kecelakaan. Dua orang pemuda tersebut bingung, apakah mereka harus membantunya, ataukah tidak. Salah satu dari mereka bertanya kepada temannya. "Apakah mereka muslim?' Temannya melihat untuk memastikan. "Ya, mereka muslim" Jawabnya. "Apakah mereka dari NU?" Tanyanya lagi. "Ya, mereka NU, karna mereka memakai peci dan sarung.' Jelas temannya. "Apakah mereka dari kelompok kita?' "Ya, mereka dari kelompok kita, karna salah satu dari mereka memakai jaket yang...

Mari Semai Kembali Benih-Benih Toleransi!

Indonesia adalah negara yang penuh dengan keragaman. Oleh karena itu, masyarakatnya pun disebut sebagai masyarakat multikultural, yakni masyarakat yang memiliki banyak kebudayaan. Kita bisa melihat dari sabang sampai merauke, mulai dari banyaknya baju tradisional, alat-alat musik, lagu-lagu daerah dan bahasa yang berbeda di setiap daerah. Meski demikian, Indonesia tetap menjaga persatuan. Perbedaan itu menjadi satu sehingga yang muncul adalah kita sebagai bangsa Indonesia dengan bahasa yang satu-bahasa Indonesia- serta ideologi yang satu -ideologi Pancasila-. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia dibangun atas dasar toleransi. Baik antar suku, ras, agama atau kepercayaan. Bayangkan saja jika antar etnis atau suku saling menguat, mengklaim negara Indonesia sebagai miliknya, maka apa yang akan terjadi? Tentu bukan persatuan, tapi perpecahan. Ketika terjadi perpecahan, apakah bisa melawan penjajahan secara independen seperti satu suku atau satu etnis saja? Tentu saja tidak, bukan? ...

Mari Saling Menghormati, Lampaui Perbedaan

Perbedaan dalam banyak hal seperti suku,  budaya, bahasa ,agama dan sebagainya di antara manusia yang satu dengan manusia yang lain hendaknya tidak menjadi kendala dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia maupun dalam pergaulan dunia. Kita musti menyadari arti pentingnya saling menghormati harkat dan martabat manusia satu dengan yang lain.  Marilah kita mengembangkan semangat persaudaraan dengan sesama manusia dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, menghidupkan kembali dan terus memeliharanya. Perbedaan yang ada pada diri kita dengan orang lain bukan berarti bahwa orang lain lebih baik dari kita atau sebaliknya. Baik dan buruknya penilaian orang lain kepada kita bukan karena warna, rupa, dan bentuk, melainkan karena baik dan buruknya perilaku kita dalam berintraksi. Oleh karena itu, marilah  berperilaku baik kepada semua orang tanpa memandang berbagai perbedaan tersebut. (Batulghasemi)

Komik Toleransi Untuk Anak Usia Dini

Seorang psikolog ternama, Dr. Haim Ginott memberikan ungkapan bahwa Anak-anak bagaikan semen yang basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Ketika kita memberikan wejangan seperti tontonan televis i , majalah atau komik, maka isi  di dalamnya bisa saja menjadi seperti jejak pada semen basah yang nantinya kering dan melekat dalam diri anak.  Saat ini isu-isu intoleransi hingga radikalisme merambah kebagian belahan bumi nusantara. Bahkan merambah ke dunia anak-anak, seperti buku pelajaran, buku bacaan dan lain sebagainya.(Baca: Penyebaran Radikalisme di Sekolah Bisa Melalui Buku Agama ) Kita sebagai pendidik harus menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi seorang anak yang memiliki jiwa intoleran. Demikian saya sajikan sebuah komik toleransi yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. komik ini juga bisa digunakan sebagai media visualisasi untuk mengajar anak SD-SMP dalam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam).       ...

Karena Harmonisasi Butuh Perbedaan

Banyak orang beranggapan bahwa hanya dengan persamaan akan tercipta persatuan, sedangkan perbedaan hanya akan menciptakan perpecahan dan mengancaman persatuan. Kalau kita kembalikan pada fitrah kita, bukankah anggapan semacam ini salah? Karena menurut akal sehat, adanya kesamaan meniscayakan adanya perbedaan didalamnya. Dikatakan sama karena ada sisi beda, dan dikatakan berbeda karena ada sisi kesamaannya. Lalu bagaimana bisa mengklaim yang berbeda itu menciptakan perpecahan dan yang sama menciptakan persatuan? Seolah-olah "sama dan beda" itu dua hal yang kontradiksi, padahal dua hal tersebut saling meniscayakan satu sama lain. Sejak lahir kita selalu dihadapkan dengan berbagai perbedaan, tak usah jauh-jauh contohnya dapat diliat pada diri kita sendiri, bentuk dan fungsi anggota tubuh kita semuanya berbeda, namun apakah itu menciptakan perpecahan atau ketidakberaturan? Justru dengan berbeda itu tercipta keberaturan bukan dengan kesamaan karena keberbedaan adalah...

Keanekaragaman Budaya Tradisional

Kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan agar makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “Yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama. Begitu juga dengan apa kata Nunus Supriadi, “Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional”. Pernyataan yang tertera pada GBHN tersebut merupakan penjabaran dari UUD 1945 Pasal 32. Dewasa ini tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia sedang memper...

Wiji Thukul

Sebagai seorang aktivis dan seniman rakyat, Wiji Thukul memang dengan tepat menggambarkan keterwakilan kelas sosialnya. Pilihan untuk kemudian bergabung bersama buruh, dan kaum miskin lainnya dalam sebuah semangat yang semakin menguat, bahwa segala bentuk kemiskinan itu bukanlah semata-mata hadiah dari kekuasaan Tuhan, akan tetapi peluang dan kesempatan itu telah dilahap oleh kekuasaan politik dan modal. Thukul, yang memang lahir dari bagian mereka yang terdepak keras oleh arus alienasi sistem bernegara itu, sadar benar bahwa sebuah perubahan dan perlawanan musti dimulai. Tampaknya, dia sama sekali tidak peduli apakah itu dimulai dari kedahsyatan ekspresi perlawanan dalam sebuah puisi, atau dia memang memilih bergerak secara fisik dalam gelora gerakan rakyat.  Dikutip dari Esai Munir tentang Wiji Thukul

Dialog Lintas Agama, Jokowi: Kita Bersatu dalam Kebhinekaan

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi), hari ini secara mendadak mengundang para tokoh lintas agama dan organisasi kemasyarakatan (ormas) di Istana Negara, Jakarta untuk berdialog tentang kebinekaan di negeri ini. Acara itu digelar sebagai tindak lanjut atas peristiwa yang terjadi di Tolikara, Provinsi Papua, pada Jumat (17/7) lalu.     Presiden Jokowi didampingi Wapres Jusuf Kalla dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan, keterlibatan para tokoh lintas agama dalam pembicaran tentang kebinekaan bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang keberagaman dan toleransi, yang harus terus dijaga dan dipertahankan dengan baik di negeri ini.     “Saya sering menyampaikan bahwa negara kita ini terdiri atas beragam agama yang menyatu dalam kebinnekaan. Sampai saat ini kita harus bersatu, bisa rukun, bisa saling tolransi, menghormati dan saling menghargai karena kehinekaan itu,” kata Presiden Jokowi. Di sisi lain, Presiden Jokow...

Ajaran Toleransi dari Sunan Kudus

Ajaran toleransi Sunan Kudus rupanya menjadi sebuah bahan kajian yang menarik bagi pelaku studi kebudayaan dan perbandingan agama-agama di Amerika Serikat. Ajaran tersebut dinilai mampu mampu menjadi bahan refleksi negara-negara lain yang mengalami konflik atas nama agama. Sunan Kudus adalah salah satu penyebar agama Islam di Indonesia yang tergabung dalam jejeran walisongo , beliau lahir pada 9 September 1400M/ 808 Hijriah. Nama lengkapnya adalah nama Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan. Ajaran untuk toleran terhadap budaya setempat serta cara penyampaian yang halus Sunan Kudus diperolehnya dari Sunan Kalijaga yang merupakan gurunya dalam berdakwah. Sikap toleran yang menarik adalah pelarangan menyembelih sapi. Karena sebagian besar warganya beragama Hindu. Untuk menghormati mereka, Sunan Kudus meminta para pengikutnya tidak boleh menyembelih sapi. Sehingga tidak mengherankan jika di Kudus terkenal dengan kuliner yang berbahan kerbau, seperti sate dan soto kerbau. Bukan sapi. Su...

Falsafah 'Satu Tungku Tiga Batu' Masyarakat Papua

Pernahkah kalian mendengar kalimat 'Satu Tungku Tiga Batu'? Kalimat dia atas merupakan falsafah yang terlahir sebagai wujud toleransi yang dijadikan pegangan oleh masyarakat Papua dalam kehidupan bermasyarakat mereka untuk saling menghargai antar pemeluk beragama. Falsafah yang lahir di Kabupaten Fakfak (Papua Barat) ini menganalogikan sebuah tungku sebagai lambang kehidupan masyrakat Fakfak, yang di bawahnya ditopang dengan tiga batu, yaitu simbol dari tiga agama yang terdapat di Kabupaten Fakfak, yaitu; Islam, Kristen Protestan daan Kristen Katolik. Nila-nilai yang bisa ditarik dari falsafah 'Satu Tungku Tiba Batu' yakni sebuah kehidupan yang dapat berjalan harmonis, dengan kekuatan persatuan dan rasa saling toleransi diantara umat beragama yang diwakili dengan ketiga agama tersebut di Kabupaten Fakfak.  Berdasarkan falsafah yang telah dijaga sejak tiga abad lalu ini, kehidupan antar umat beragama di Kabupaten Fakfak berjalan dengan sangat harmonis...